BAB II
KONSEP DASAR
A.KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Efusi pleura adalah jumlah cairan non purulen yang berlebihan dalam rongga pleura,antara lapisan viseral dan parietal.
(Tucker,1998:265)
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura
(mansjoer,2001:484)
Efusi pleura adalah penumpukan cairan di ruang pleura dan selalu konstan dari kapiler pleura parietal dan diabsorbsi oleh pleura kapiler viseral dan limfatik
(matassarin,1997:1084)
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura
(medicastore,2006)
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan dirongga pleura yang terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hiperemi akibat inflamasi,perubahan tekanan osmotik(hipoalbuminemia),peningkatan tekanan vena (gagal jantung)
(sjamsuhidayat,1997:526)
2. Penyebab
a. Peningkatan tekanan hidrostatik sistemik ( contoh : gagal jantung kongestif )
b. Penurunan tekanan tekanan onkotik kapiler ( contoh : penyakit ginjal,hati )
c. Peningkatan permeabilitas pembuluh kapiler ( contoh : karena infeksi/tumor )
d. Kerusakan fungsi limpatik ( karena obstruksi limpa karena tumor )
( Matassarin,1997:1084 )
Etiologi yang lain dari efusi pleura adalah :
a. Neoplasma,seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
b. Kardiovaskuler seperti gagal jantung kongestif,embolus pulmonar dan perikarditis
c. Penyakit pada abdomen,seperti pankreatitis,acites,abses dan sindrom meigs.
d. Infeksi yang di sebabkan bakteri,virus,jamur,mikrobakterial dan parasit.
e. Trauma.
f. Lain-lain seperti lupus eritematosus sistemik,reumatoid artritis,sindrom nefrotik dan uremia.
( Arief mansjoer,2001: 484 )
3. Manifestasi klinis
Sesak napas merupakan yang utama,baik pada transudat maupun eksudat.Gejala klinis yang terjadi dapat disebabkan karenakelainan paru primer.Pada empiema gejala lebih hebat ,yakni berupa panas menggigil dan penurunan berat badan.Gejala empiema yang timbul tergantung dari terbentuk atau tidaknya fistula ke bronkus yaitu berupa fistula bronko pleura.Bila tidak terjadi fistula maka gejalanya akan tetap berat,sementara itu apabila terjadi fistula maka gejalanya akan lebih ringan.
( Dr.H.Tabrani,1999:575 )
Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar. Pneumonia akan menyebabkan demam menggigil dan nyeri dada pleuritas,sementara efusi maigna dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk.Efusi pleural yang luas akan menyebabkan sesak napas.Area yang mengandung cairan /menunjukan bunyi napas minimal/tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar,pekak saat di perkusi.Egofoni akan terdengar diantara area efusi.Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.Bila terdapat efusi pleural kecil sampai sedang dipsnea mungkin saja tidak terdapat.
( Smeltzer,2002:593 )
4. Patofisiologi
Secara normal ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan ( 5 – 15 ml ) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi.Pada gangguan tertentu,cairan dapat terkumpul dalam ruang pleural pada titik dimana penumpukan ini akan menjadi bukti secara klinis dan hampir selalu merupakan signifikan patologi.Efusi dapat terjadi atas cairan yang secara relatif jernih,yang mungkin merupakan transudat/eksudat atau dapat mengandung darah/ purulen.Transudat dapat terjadi pada peningkatan vena pulmonalis,misalnya pada payah jantung kongestif.Pada kasus ini keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dalam pembuluh.Transudat dapat pula terjadi pada hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dati ginjal atau pada penekanan tumor pada vena kava.Penimbunan transudat dalam rongga pleura dikenal dengan nama hidrotorak.Cairan pleura cenderung tertimbun pada dasar paru akibat gaya gravitasi.Pewnimbunan eksudat timbul skunder dari peradangan atau keganasan pleura dan akibat peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan absorbsi getah bening.Eksudat di bedakan dengan transudat dari kadar protein yang dikandungnya dan dari berat jenis kurang dari 1,015 dan kadar proteinya kurang dari 3%,sedangkan eksudat mempunyai berat jenis dan kadar protein lebih tinggi,karena banyak mengandung sel.Jika efusi pleura banyak mengandung nanah,maka keadaan ini disebut empiema.Empiema disebabkan karena perluasan infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat merupakan komplikasi dari pneumonia,abses paru atau perforasi karsinoma ke dalam rongga pleura.Empiema yang tak di tangani dengan drainase yang baik dapat membahayakan dinding toraks.Eksudat akibat peradangan akan mengalami organisasi,dan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan viseralis.Keadaan ini dikenal dengan nama fibrotoraks.
( Price,1995:704-705 )
5. Pemeriksaan penunjang
a. Sinar tembus dada/rontgen
b. Torakosentesis
c. Biopsi pleura
d. Bronkoskopi
e. Scaning isotop
f. Torakoskopi (Fiber optik pluroscopy )
( Halim,2001:928-930 )
6. Komplikasi
a. Pnemotoraks
b. Pneumonia
c. Emfisema
( Tucker,1998:266 )
7. Penatalaksanaan
Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan,untuk mendapatkan spesimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan dipsnea.Bila penyebab dasar adalah maligna,efusi dapat terjadi lagi dalam beberapa hari lagi/minggu.Torasentesis berulang akan mengakibatkan nyeri,penipisan protein dan elktrolit dan kadang pnemotoraks.Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke sistem drainase water seal atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Agen yang secara kimia megiritasi,seperti tetrasiklin dimasukan ke dalam ruang pleura dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.Setelah agen dimasukan selang dada diklem dan pasien di bantu untuk mengambil berbagai posisi untuk memastikan penyebaran agens dengan permukaan pleura.Selang dilepaskan klemnya sesuai dengan yang diresepkan dan drainase dada biasanya di teruskan beberapa hari lebih lama untuk mencegah reakumulasi cairandan untuk meningkatkan pembentukan adhesi antara pleural viseralis dan parietalis.
Modalitas pengobatan lainnya unyuk efusi pleura maligna termasuk radiasi dinding dada,bedah pleurektomi dan terpi diuretik.Jika cairan pleura merupakan eksudat,prosedur diagnostik yang lebih jauh dilakukan untuk menentukan penyebabnya.Pengobatan untuk penyebab primer kemudian dilakukan.
( Smeltzer,2002:594 )
.B. KONSEP KEPERAWATAN
1.Pengkajian data dasar
a. Keluhan utama pada pasien efusi pleura yaitu terjadinya penumpukan cairan pada rongga pleura sehingga menyebabkan dipsnea,kesulitan pernapasan pernapasan,batuk,kelihan.
b. Riwayat keperawan sekarang
Pengkajian mencakup pengumpulan informasi tentang gejala-gejala terakhir dan manifestasi penyakit sebelumnya dan alasan pasien untuk mencari pertolongan perawatan kesehatan yang berhubungan dengan dipsnea,nyeri,akumulasi mucus,batuk,keletihan,hemoptisis
c. Riwayat keperawatan dahulu
Dalam riwayat keperawatan dahulu faktor-faktor yang dapat dikaji adalah merokok,riwayat pekerjaan,riwayat penyakit dahulu,riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya
d. Riwayat keperawan keluarga
Pada pasien efusi pleura pengkajian pada riwayat keperawatan keluarga tidak begitu difokuskan,tergantung dari penyebab efusi pleura tersebut.
( Smeltzer,2002 )
Pola fungsional yang digunakan yaitu pada pola fungsional menurut Virginia handerson karena teori keperawatan Virginia handerson( harmer dan handerson,1995 )mencakup kebutuhan dasar manusia (handerson,1964 ) mendefinisikan keperawatan sebagai kebutuhan dasar menurut handerson (14 kebutuhan dasar handerson )memberikan kerangka kerja dalam melakukan asuhan keperawatan( Handerson,1966 )
1. Bernapas dengan normal
Di dalam bernapas apakah tanda-tanda obstruksi atau perubahan pola napas.Klien dapat bernapas dengan normal dan membantu memilih tempat tidur,kursi yang cocok serta menggunakan bantal,alas
2. Kebutuhan akan nutrisi
Perawat harus mampu memberikan penjelasan TB dan BB yang normal,kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan,pemilihan dan penyediaan makanan,pendidikan kesehatan,harus mengetahui kebiasaan.Kepercayaan klien mengenai nutrisi dan tumbang.
3. Kebutuhan eliminasi
Perawatan dasarnya meliputi semua pengeluaran tubuh,mengetahui semua saluran pengeluaran dan keadaan normalnya.Frekuensi pengeluaran yang meliputi keringat,udara yang keluar saat bernapas,menstruasi,muntah,buang air kecil dan buang air besar
4. Gerak dan keseimbangan tubuh
Perawat harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman dalam semua posisi dan tidak membiarkan berbaring terlalu lama pada satu posisi .Perawat harus melindungi pasien selama sakit
5. Kebutuhan istirahat dan tidur
Istirahat dan tidur sebagian tergantung relaksasi otot,disamping itu di poengaruhi oleh emosi( stress),dimana stress merupakan keadaan dari aktivitas istirahat
6. Kebutuhan berpakaian
Perawatan dasarnya meliputi membantu klien memilihkan pakaian yang tepat.Perawat tidak boleh memaksakan kepada klien pakaian yang tidak ia sukai,karena hal itu dapat menghilangkan rasa kebebasan klien.
7. Mempertahankan temperatur tubuh atau sirkulasi
Perawat harus mengetahui fisiologi panas dan bisa mendorong kearah tercapainya keadaan panas maupun dingin dengan mengubah temperatur
8. Kebutuhan akan personal higiene
Konsep-konsep mengenai kebersihan berbeda tiap klien tetapi tidak perlu menurunkan hanya karena sakit.Perawatan sangat di butuhkan untuk kebersihan kulit,rambut,kuku,hidung,mulut dan gigi
9. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Dalam keadaan sehat setiap orang bebas mengontrol keadaan sekelilingnya,jika sakit sikap tersebut tidak dapat dilakukannya,perawatan dasarnya melindungi klien dari trauma dan bahaya yang timbul dari mikroorganisme patogen.
10. Berkomunikasi dengan orang lain dan ekspresikan emosi,keinginan rasa takut dan pendapat.
Perawat adalah penerjemah dalam hubungan klien dengan tim kesehatan lain.Tugas perawat adalah membuat klien mengerti dirinya sendiri,mengerti perlunya perubahan sikap yang memperburuk kesehatannya.
11. Kebutuhan spiritual
Perawat dan petugas kesehatan lainnya harus menyadari bahwa kenyakinan dan kepercayaan agama sangat berpengaruh terhadap penyembuhan.
12. Kebutuhan bekerja
Sakit akan lebih ringan apabila seseorang dapat terus bekerja.rehabilitasi pada klien berarti menempatkan kembali pada pekerjaanya yang produktif
13. kebutuhan dan rekreasi
Sering kali keadaan sakit menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan menikmati variasi dan udara segar serta rekreasi.
14. kebutuhan belajar
Fungsi perawat adalah membantu klien belajar dalam mendorong usaha penyembuhan dan meningkatkan kesehatan,serta memperkuata dan mengikuti rencanba terapi yang di berikan
(Patter,patricia,2005;274)
PENGKAJIAN FISIK
Pengkajian fisik pada paru-paru pada pasien dengan efusi pleura adalah
1. Batuk sedikit,kadang muncul batuk non produktif,sputum tidak ada,nyeri dada setempat,peningkatan suhu tubuh.
2. Pada inspeksi ditemukan dipsnea,ekspansi dada asimetris,kesulitan pernafasan
3. Pada palpasi di temukan taktil premitus menurun,premitus mungkin lebih keras dari sisi yang tidak terdapat cairan
4. Pada perkusi ditemukan bunyi datar atau tumpul,gerakan diafragma melemah,pekak dengan batas seperti garis miring atau mungkin tidak jelas tergantung pada cairan yang ada di rongga pleura.
5. Pada auskultasi ditemukan bunyi nafas melemah atau tidak ada pada daerah yang terkena,egoponi dan berdesir pada area diatas tingginya air,friction rub pleura.
Pengkajian kekhususan yaitu trakhea mungkin bergeser,taki kardia
(Priharjo,1996:83-84)
b. Fokus intervensi
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan
- Penurunan ekspansi paru
- Gangguan muskuluskeletal
- Nyeri/ansietas
- Proses inflamansi
Tujuan : Menunjukan pola napas normal/efektif dengan GDA dalam rentang normal
Kreteria hasil : Bebas sianosis dan tanda / gejala hipoksia
Intervensi :
a. Identifikasi etiologi/faktor pencetus
Rasional : Pemahaman penyebab sesak untuk dan untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terapetik lain.
b. Evaluasi fungsi pernapasan
Rasional : Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi dan nyeri.
c. Beri posisi semi fowler
Rasional : Membantu ekspansi paru lebih mengembang dan menambah luas rongga dada serta memudahkan pernapasan.
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian oksigen dan obat anti sesak
Rasional : Memaksimalkan suplai oksigen dan menurunkan kerja paru-paru yang berlebihan
e. Pertahankan posisi nyaman
Rasional : Meningkatkan inspirasi maksimal,meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit
f. Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi mekanik
Rasionalnya :
2. Resiko tinggi terhadap trauma/penghentian napas berhubungan dengan
- Penyakit saat ini/proses cidera
- Tergantung pada alat dari luar ( sistem drainase dada )
- Kuang pendidikan keamanan/pencegahan
Tujuan : Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi
Kreteria hasil : Pemberi perawatan akan memperbaiki/menghindari lingkungan
dan bahaya fisik
Intervensi :
a. Kaji dengan pasien/fungsi unit drainase dada,cacat gambaran keamanan
Rasional : Informasi tentang bagaimana sistem bekerja memberikan kenyakinan,menurunkan ansiets pasien.
b. Pasangkan kateter torak ke dinding dada
Rasional : Mencegah terlepasnya kateter dada atau selang teripat dan menurunkan nyeri/ketidak nyamanan.
c. Awasi sisi lubang pemasangan selang,cacat,kondisi kulit,adanya/karakteristik drainase dari sekitar drainase.
Rasional : memberikan pengenalan dini dan mengobati adanya erosi / infeksi kulit.
d. Anjurkan pasien untuk menghindari berbaring / menarik selang
Rasional : Menurunkan obstruksi drainase/terlepasnya selang
e. observasi tanda distres pernafasan bila kateter torak terlepas/tercabut.
Rasional : Efusi pleura dapat terulang/memburuk,karena mempengaruhi fungsi pernafasan dan memerlukan intervensi darurat.
( doenges, 2000 : 197 – 200 )
3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan sekunder terhadap insufisiensi oksigen, kelemahan fisik.
Tujuan dan kriteria hasil :
Klien akan melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat di ukur dengan tidak adanya dipsnea, sianosis, tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
a. Kaji tingkat intoleransi klien
Rasional : menentukan kemampuan klien terhadap aktivitas.
b. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi maksimal
Rasional : Untuik membantu dalam memandirikan pasien.
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
Rasional : Tirah baring dapat dipertahankan untuk penyembuhan dan pembatasan aktiovitas di tentukan dengan respon pasien terhadap aktivitas dan perbaikkan kegagalan pernafasan.
d. Bantu pasien dalam melaksanakan aktivitas sehari – hari.
Rasional : meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen.
e. Libatkan keluarga dan perawatan.
Rasional : membantu memantau dalam perkembangan pasien.
4. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar )mengenai kondisi, aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang pada informasi.
Tujuan : menyatakan pemahaman penyebab masalah.
Kriteria hasil : - mengidentifikasi tanda / gejala yang memerlukan evaluasi medik.
- mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah.
Intervensi :
a. Kaji patologi masalah individu.
Rasional : informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan.
b. identifikasi kemungkinan kambuh / komplikasi jangka pajang.
Rasional : penyakit paru yang seperti PPOM berat dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh.
c. Kaji ulang tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat, contoh : nyeri dada tiba – tiba, dipsnea, distres pernafasan lanjut.
Rasional : berulangnya efusi pleura memerlukan intervensi medik untuk mencegah / menurunkan potensial komplikasi.
d. Kaji ulang praktik kesehatan yang baik contoh : nutrisi baik, istirahat, latihan.
Rasional : mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan.
( Doenges, 2000 )
PENGKAJIAN NYERI
Ringan Sedang Berat
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
- PROVOKING : Penyebeb nyeri karena adanya luka laserasi pungsi pleura.Nyerinya berkurang bila napas dalam dan diberi posisi semi fowler.Nyerinya bertambah bila dibuat banyak bergerak
- QUALITY/QUANTITY : kualitas nyerinya seperti ditusuk-tusuk jarum dantersa panas/perih
- REGION : Nyerinya terletak pada daerah penusukan pungsi yaitu pada dada belakang sebelah kiri sampai ke daerah sekitarnya
- SCALE : skala nyeri 6
- TIMING : Nyerinya mulai timbul setelah dilakukan pungsi pleura.Sering timbul pada malam hari,timbul secara perlahan-lahan dan durasinya nyeri kurang lebih 10 menit
Jumat, 24 Juli 2009
askep abortus
BAB II
KONSEP DASAR
A. DEFENISI
ABORTUS adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu.
(Manuaba, 1998 : 214)
ABORTUS adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
(Eastman, 2005 : 209)
(Wiknjosastro, 2005 : 302)
ABORTUS adalah istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas janin yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139 hari) dihitung di hari pertama haid terakhir normal yangdapat dipakai.
(Taber, 1994 :56)
ABORTUS dapat di bagi menjadi :
A. Berdasarkan terjadinya :
1. Keguguran spontan
Terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri.
2. Keguguran buatan
Sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri, upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan :
a. Indikasi Medis
Menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu untuk dapat menyelamatkan jiwanya. Indikasi medis tersebut diantaranya :
- penyakit jantung, ginjal atau hati yang berat
- gangguan jiwa ibu
- dijumpai kelainan bawaan berat dengan pemeriksaan ultrasonogrfi
- gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
b. Indikasi Sosial
Pengguguran kandungan dilakukan atas dasar aspek sosial
- menginginkan jenis kelain tertentu
- Tidak ingin punya anak
- Belum siap untuk hamil
- Kehamilan yang tidak diinginkan
B. Berdasarkan Pelaksanaannya
Berdasarkan pelaku gugur kandung dapat dibagi atau dikelompokkan
1. Keguguran buatan teraupetik
Dilakukan tenaga medis secara legaltis berdasarkan indikasi medis
2. Keguguran buatan ilegal
Dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum
C. Berdasarkan gambaran klinisnya gugur kandung dibagi menjadi :
1. Keguguran lengkap (abortus kompletus)
Semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya
2. Keguguran tidak lengkap (abortus inkompletus)
Sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyakit
3. Keguguran mengancam (abortus iminens)
4. Keguguran tak terhalangi
5. Keguguran habitualis
6. Keguguran dengan infeksi (abortus infeksiolus)
7. Missed abortion
(Manuaba, 1998 : 214)
D. Menurut gambaran klinik abortus dapat dibedakan antara lain :
1. Abortus iminens
Peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan 20 minggu menghasilkan konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi seniks
2. Abortus Insipiens
Peristiwa pendarahaan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih didalam uterus
3. Abortus Inkompletus
Penguluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus
4. Abortus Kompletus
Semua hasil konsepsi dikeluarkan dari uterus pada penderita ditemukan pendarahaan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah banyak mengecil
5. Abortus Servikalis
Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka sehingga semuanya berkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar kurang lebih bundar dengan dinding menipis
6. Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih
7. Abortus habitualis
Abortus spontan yang terjadi 2 kali atau lebih berturut-turut
8. Abortus Infeksialis
Abortus yang disertai infeksi pada genetalia
9. Abortus septik
Abortus infeksiolus berat disetai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritonium
(Wiknjosastro, 2005 : 305)
E. ETIOLOGI
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudiqah.sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan kelainan abortus dapat dibagi sebagai berikut :
A. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat, kelinan berat biasanya menyebabkan kematian muduqah pada hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut :
a. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliplaidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
b. Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endotrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu
c. Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagian dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi atau lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh itu pada umumnya dinamakan pengaruh teratogen
B. Kelainan pada plasenta
Endoteritis dapat menjadi dalam vilikorialis dan menyebabkan .plasenta tertanggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun
C. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis pielonifritis, malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus, toksin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin. Sehingga menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus
D. Kelainan traktes genetalis
Retroversio uteri, miomata uteri atau kelainan bawaan dapat menyebabkan abortus tetapi harus diangat bahwa hanya retroversio uteri inkarserata atau uterus mioma submukosa yang memegang peranan penting sebab lain abortus dalam trimester ke 2 ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks. Dilaktasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks luas yang tidak dijahit
(Wiknjosastro, 2005 : 203)
F. MANIFESTASI KLINIK
• Terdapat keterlambatan datang bulan
• Terdapat pendarahan disertai perut sakit (mulas)
• Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur hamil dan terjadi kontraksi otot rahim
• Hasil pemeriksaan dalam terdapat pendarahan dari kanalis servikalis masih tertutup dapat dirasakan kontraksi ototr rahim
• Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif
(Manuaba, 1998 :128)
G. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya keguguran dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan pendarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas dianggap benda asing sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan, seluruh atau bagian masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut. Karena kontraksi rahim terjadi pendarahan dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
Bentuk pendarahan bervariasi diantaranya :sedikit dan berlangsung lama sekaligus dalam jumlah yang besar disertai dengan gumpalan. akibat pendarahan tidak menimbulkan gangguan apapun, tetapi menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, dampak anemeis dan daerah ujung (akral) dingin.
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi. Umur hamil dibawah 14 minggu dimana plasenta belum dibentuk sempurna dikeluarkan atau sebagian hasil konsepsi. Diatas 16 minggu dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi dan dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta. Berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaterus. Hasil konsepsi tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembentukan darah. Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi :
- Mola karnosa : hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging
- Mola heberose : amnion berbenjol-benjol karena terjadi hemotoma antar amnion dan korion
- Fetus kompresus : janin mengalami mummifikasi, terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng
- Fetus papireseus : kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan laksana kertas
- Blighted ovum : hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin hanya benda kecil yang tidak berbentuk
- Missed akortion : hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu
(Manuaba, 1998 :216)
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes kehamilan positif bila janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibronogen darah pada missed abortion
I. KOMPLIKASI ABORTUS
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah pendarahan perforasi, infeksi dan syok
1. Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena pendarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati-amati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi. Penjaitan luka perforasi atau perlu histerektomi perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas mungkin mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi
3. Infeksi
Biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemorogik) dan karena infeksi perut (syok endoseptik)
(Wiknjosastro, 2005 : 313)
J. PENATALAKSAAN
Pada pasien abortus imenens dilaksanakan dengan
a. Istirahat total di tempat tidur
- Meningkatkan aliran darah ke rahim
- Mengurangi rangsangan mekanis
b. Obat-obatan yang diberikan
- Penenang penobarbital 3x30 mgram, valium
- Anti pendarahan : Adona, Transamin
- Vitamin B komplek
- Hormonal : Progesteron
- Penguat plasenta : Gestanom, Dhupaston
- Anti kontraksi rahim : Duvadilan, Papaverin
c. Evaluasi
- Pendarahan jumlah dan lamanya
- Tes kehamilan dapat diulangi
- Konsultasi pada dokter ahli atau penanganan lebih lanjut dan pemeriksaan ultrasonografi
(Manuaba, 1998 : 218)
1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada kematian janin.
Yang dimaksud ansietas adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktifitas sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas non spesifik (Carpenito, 2000 : 9) ini bisa dibuktikan dengan peningkatan tegangan ketakutan. Perasaan tidak adekuat, keluhan-keluhan somatik (Doengoes,2006:121)
Data mayor dimanifestasikan oleh gejala-gejala dari katagori fisiologis emosional dan kognitif.gejala-gejala bervariasi sesuai dengan tingkat ansietas. Fisiologi sendiri meliputi peningkatan frekuensi jantung, peningkatan tekanan darah peningkatan frekuensi pernapasan, diaforesis, insomnia keletihan dan kelemahan mulut kering, gelisah, gemetar, bedebar-debar sering berkemih, diare, emosional meliputi ketakutan ketidak berdayaan gugup dan kurang percaya diri sedangkan kognitif tidak dapat konsentrasi kurang kesadarn tentang sekitar.(Carpenito, 2000 : 9).
Masalah keperawatan ini diprioritaskan kedua sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan keamanan dan keselamatan (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu 2 x 24 jam dengan hasil yang diharapkan pasien tidak cemas.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk berfungsi membuat keputusan rasionalnya stres yang tidak diatasi dengan mempengaruhi tugas tugas kehamilan,.tekankan pentingnya aktifitas hiburan yang tenang rasionalnya mencegah kebosanan dan meningkatkan kerja sama dengan pembatasan aktifitas ,anjurkan pasien untuk tirah baring rasionalnya aktifitas mungkin perlu modifikasi tergantung pada gejala-gejala aktifitas uterus perubahan serviks, kolaborasi tim medis.(Doengoes, 2000 : 121)
Evaluasi yang didapatkan pada tanggal 8 Mei 2006 pada hari ke 2 yaitu pasien mengatakan sudah bisa beraktifitas dan aktifitas pasien bisa dilakukan sendiri. TD 120/80 mmHg. Masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Faktor pendukung pada implementasi yang dilakukan penulis yaitu pasien mengikuti tindakan yang dilakukan oleh penulis sedangkan faktor penghambatnya pasien lebih aktif dan mengerti dengan cara dipraktekan daripada dengan bahasa
Pembenaran :
Penulis mendapatkan data tentang pasien yang dibantu oleh keluarga dan perawat, misalnya mandi dibantu oleh perawat dan keluarga.
2. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan
Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami difisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi rencana pengobatan (Carpenito, 2000 : 223) karena kurangnya pemajaan pada dan atau kesalahan interprestasi tentang informasi tidak mengenal resiko individu atau peran sendiri pada pencegahan atau pelaksanaan resiko.(Dongoes, 2000 : 431)
Data mayor yang mendukung mengungkapkan pengetahuan atau penampilan dan permintaan informasi mengekspresikan suatu ketidak akuratan persepsi status kesehatan,melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan dan data minor ditemukan kurang integrasi tentang rencana pengobatan kedalam aktifitas sehari-hari,memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (misalnya ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi.
Masalah keperawatan yang dilakukan ini diprioritaskan terakhir sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan dasar aktualisasi diri (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu yang diperlukan 20 menit dengan hasil yang diharapkan pasien dapat mengerti tentang kehamilanya.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain:kaji pengetahuan pasien rasionalnya untuk mengetahui tingkat pendidikanya .beri informasi tentang kehamilanya rasionalnya meningkatkan pemahaman akan dampak kehamilan pada proses penyakit, (Dongoes, 2001 : 119). Bantu pasien untuk mengidentifikasi teknik perawatan diri untuk individu rasioanalnya meningkatkan kepercayaan diri dalam perawatan diri (Dongoes,2001:119).anjurkan pasien untuk melaporkan tentang perubahan kehamilan rasionalnya dapat mewujudkan perubahan kehamilanya yang dapat mencetuskan abortus. (Dongoes, 2001 : 120)
Hasil yang diperoleh pada jam 11.00 pada tanggal 9 Mei 2006 adalah pasien sudah memahami tentang kehamilanya,dan masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Dalam melakukan implementasi penulis mempunyai faktor pendukung dan penghambatnya.faktor pendukung:pasien kooperatif dalam tindakan yang dilakukan penulis dan penghambatnya :pasien tidak begitu mengerti jika penyuluhan lebih baik diberi contoh secara langsung
KONSEP DASAR
A. DEFENISI
ABORTUS adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu.
(Manuaba, 1998 : 214)
ABORTUS adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
(Eastman, 2005 : 209)
(Wiknjosastro, 2005 : 302)
ABORTUS adalah istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas janin yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139 hari) dihitung di hari pertama haid terakhir normal yangdapat dipakai.
(Taber, 1994 :56)
ABORTUS dapat di bagi menjadi :
A. Berdasarkan terjadinya :
1. Keguguran spontan
Terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri.
2. Keguguran buatan
Sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri, upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan :
a. Indikasi Medis
Menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu untuk dapat menyelamatkan jiwanya. Indikasi medis tersebut diantaranya :
- penyakit jantung, ginjal atau hati yang berat
- gangguan jiwa ibu
- dijumpai kelainan bawaan berat dengan pemeriksaan ultrasonogrfi
- gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
b. Indikasi Sosial
Pengguguran kandungan dilakukan atas dasar aspek sosial
- menginginkan jenis kelain tertentu
- Tidak ingin punya anak
- Belum siap untuk hamil
- Kehamilan yang tidak diinginkan
B. Berdasarkan Pelaksanaannya
Berdasarkan pelaku gugur kandung dapat dibagi atau dikelompokkan
1. Keguguran buatan teraupetik
Dilakukan tenaga medis secara legaltis berdasarkan indikasi medis
2. Keguguran buatan ilegal
Dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum
C. Berdasarkan gambaran klinisnya gugur kandung dibagi menjadi :
1. Keguguran lengkap (abortus kompletus)
Semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya
2. Keguguran tidak lengkap (abortus inkompletus)
Sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyakit
3. Keguguran mengancam (abortus iminens)
4. Keguguran tak terhalangi
5. Keguguran habitualis
6. Keguguran dengan infeksi (abortus infeksiolus)
7. Missed abortion
(Manuaba, 1998 : 214)
D. Menurut gambaran klinik abortus dapat dibedakan antara lain :
1. Abortus iminens
Peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan 20 minggu menghasilkan konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi seniks
2. Abortus Insipiens
Peristiwa pendarahaan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih didalam uterus
3. Abortus Inkompletus
Penguluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus
4. Abortus Kompletus
Semua hasil konsepsi dikeluarkan dari uterus pada penderita ditemukan pendarahaan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah banyak mengecil
5. Abortus Servikalis
Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka sehingga semuanya berkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar kurang lebih bundar dengan dinding menipis
6. Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih
7. Abortus habitualis
Abortus spontan yang terjadi 2 kali atau lebih berturut-turut
8. Abortus Infeksialis
Abortus yang disertai infeksi pada genetalia
9. Abortus septik
Abortus infeksiolus berat disetai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritonium
(Wiknjosastro, 2005 : 305)
E. ETIOLOGI
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudiqah.sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan kelainan abortus dapat dibagi sebagai berikut :
A. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat, kelinan berat biasanya menyebabkan kematian muduqah pada hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut :
a. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliplaidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
b. Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endotrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu
c. Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagian dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi atau lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh itu pada umumnya dinamakan pengaruh teratogen
B. Kelainan pada plasenta
Endoteritis dapat menjadi dalam vilikorialis dan menyebabkan .plasenta tertanggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun
C. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis pielonifritis, malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus, toksin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin. Sehingga menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus
D. Kelainan traktes genetalis
Retroversio uteri, miomata uteri atau kelainan bawaan dapat menyebabkan abortus tetapi harus diangat bahwa hanya retroversio uteri inkarserata atau uterus mioma submukosa yang memegang peranan penting sebab lain abortus dalam trimester ke 2 ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks. Dilaktasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks luas yang tidak dijahit
(Wiknjosastro, 2005 : 203)
F. MANIFESTASI KLINIK
• Terdapat keterlambatan datang bulan
• Terdapat pendarahan disertai perut sakit (mulas)
• Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur hamil dan terjadi kontraksi otot rahim
• Hasil pemeriksaan dalam terdapat pendarahan dari kanalis servikalis masih tertutup dapat dirasakan kontraksi ototr rahim
• Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif
(Manuaba, 1998 :128)
G. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya keguguran dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan pendarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas dianggap benda asing sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan, seluruh atau bagian masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut. Karena kontraksi rahim terjadi pendarahan dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
Bentuk pendarahan bervariasi diantaranya :sedikit dan berlangsung lama sekaligus dalam jumlah yang besar disertai dengan gumpalan. akibat pendarahan tidak menimbulkan gangguan apapun, tetapi menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, dampak anemeis dan daerah ujung (akral) dingin.
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi. Umur hamil dibawah 14 minggu dimana plasenta belum dibentuk sempurna dikeluarkan atau sebagian hasil konsepsi. Diatas 16 minggu dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi dan dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta. Berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaterus. Hasil konsepsi tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembentukan darah. Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi :
- Mola karnosa : hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging
- Mola heberose : amnion berbenjol-benjol karena terjadi hemotoma antar amnion dan korion
- Fetus kompresus : janin mengalami mummifikasi, terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng
- Fetus papireseus : kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan laksana kertas
- Blighted ovum : hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin hanya benda kecil yang tidak berbentuk
- Missed akortion : hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu
(Manuaba, 1998 :216)
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes kehamilan positif bila janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibronogen darah pada missed abortion
I. KOMPLIKASI ABORTUS
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah pendarahan perforasi, infeksi dan syok
1. Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena pendarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati-amati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi. Penjaitan luka perforasi atau perlu histerektomi perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas mungkin mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi
3. Infeksi
Biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemorogik) dan karena infeksi perut (syok endoseptik)
(Wiknjosastro, 2005 : 313)
J. PENATALAKSAAN
Pada pasien abortus imenens dilaksanakan dengan
a. Istirahat total di tempat tidur
- Meningkatkan aliran darah ke rahim
- Mengurangi rangsangan mekanis
b. Obat-obatan yang diberikan
- Penenang penobarbital 3x30 mgram, valium
- Anti pendarahan : Adona, Transamin
- Vitamin B komplek
- Hormonal : Progesteron
- Penguat plasenta : Gestanom, Dhupaston
- Anti kontraksi rahim : Duvadilan, Papaverin
c. Evaluasi
- Pendarahan jumlah dan lamanya
- Tes kehamilan dapat diulangi
- Konsultasi pada dokter ahli atau penanganan lebih lanjut dan pemeriksaan ultrasonografi
(Manuaba, 1998 : 218)
1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada kematian janin.
Yang dimaksud ansietas adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktifitas sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas non spesifik (Carpenito, 2000 : 9) ini bisa dibuktikan dengan peningkatan tegangan ketakutan. Perasaan tidak adekuat, keluhan-keluhan somatik (Doengoes,2006:121)
Data mayor dimanifestasikan oleh gejala-gejala dari katagori fisiologis emosional dan kognitif.gejala-gejala bervariasi sesuai dengan tingkat ansietas. Fisiologi sendiri meliputi peningkatan frekuensi jantung, peningkatan tekanan darah peningkatan frekuensi pernapasan, diaforesis, insomnia keletihan dan kelemahan mulut kering, gelisah, gemetar, bedebar-debar sering berkemih, diare, emosional meliputi ketakutan ketidak berdayaan gugup dan kurang percaya diri sedangkan kognitif tidak dapat konsentrasi kurang kesadarn tentang sekitar.(Carpenito, 2000 : 9).
Masalah keperawatan ini diprioritaskan kedua sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan keamanan dan keselamatan (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu 2 x 24 jam dengan hasil yang diharapkan pasien tidak cemas.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk berfungsi membuat keputusan rasionalnya stres yang tidak diatasi dengan mempengaruhi tugas tugas kehamilan,.tekankan pentingnya aktifitas hiburan yang tenang rasionalnya mencegah kebosanan dan meningkatkan kerja sama dengan pembatasan aktifitas ,anjurkan pasien untuk tirah baring rasionalnya aktifitas mungkin perlu modifikasi tergantung pada gejala-gejala aktifitas uterus perubahan serviks, kolaborasi tim medis.(Doengoes, 2000 : 121)
Evaluasi yang didapatkan pada tanggal 8 Mei 2006 pada hari ke 2 yaitu pasien mengatakan sudah bisa beraktifitas dan aktifitas pasien bisa dilakukan sendiri. TD 120/80 mmHg. Masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Faktor pendukung pada implementasi yang dilakukan penulis yaitu pasien mengikuti tindakan yang dilakukan oleh penulis sedangkan faktor penghambatnya pasien lebih aktif dan mengerti dengan cara dipraktekan daripada dengan bahasa
Pembenaran :
Penulis mendapatkan data tentang pasien yang dibantu oleh keluarga dan perawat, misalnya mandi dibantu oleh perawat dan keluarga.
2. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan
Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami difisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi rencana pengobatan (Carpenito, 2000 : 223) karena kurangnya pemajaan pada dan atau kesalahan interprestasi tentang informasi tidak mengenal resiko individu atau peran sendiri pada pencegahan atau pelaksanaan resiko.(Dongoes, 2000 : 431)
Data mayor yang mendukung mengungkapkan pengetahuan atau penampilan dan permintaan informasi mengekspresikan suatu ketidak akuratan persepsi status kesehatan,melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan dan data minor ditemukan kurang integrasi tentang rencana pengobatan kedalam aktifitas sehari-hari,memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (misalnya ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi.
Masalah keperawatan yang dilakukan ini diprioritaskan terakhir sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan dasar aktualisasi diri (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu yang diperlukan 20 menit dengan hasil yang diharapkan pasien dapat mengerti tentang kehamilanya.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain:kaji pengetahuan pasien rasionalnya untuk mengetahui tingkat pendidikanya .beri informasi tentang kehamilanya rasionalnya meningkatkan pemahaman akan dampak kehamilan pada proses penyakit, (Dongoes, 2001 : 119). Bantu pasien untuk mengidentifikasi teknik perawatan diri untuk individu rasioanalnya meningkatkan kepercayaan diri dalam perawatan diri (Dongoes,2001:119).anjurkan pasien untuk melaporkan tentang perubahan kehamilan rasionalnya dapat mewujudkan perubahan kehamilanya yang dapat mencetuskan abortus. (Dongoes, 2001 : 120)
Hasil yang diperoleh pada jam 11.00 pada tanggal 9 Mei 2006 adalah pasien sudah memahami tentang kehamilanya,dan masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Dalam melakukan implementasi penulis mempunyai faktor pendukung dan penghambatnya.faktor pendukung:pasien kooperatif dalam tindakan yang dilakukan penulis dan penghambatnya :pasien tidak begitu mengerti jika penyuluhan lebih baik diberi contoh secara langsung
Senin, 13 Juli 2009
asuhan abortus iminens
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. G DENGAN
ABORTUS IMINENS DI RUANG BR RSU TIDAR MAGELANG
TAHUN 2009
Oleh :
VICKAR INDAKA
AKADEMI KEPERAWATAN
“AN-NUR”
PURWODADI - GROBOGAN
2009
HALAMAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis dapat menyelesaikan laporan praktik dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah. Dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. G DENGAN ABORTUS IMINENS DI RUANG BR RSU TIDAR MAGELANG” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas di akademi keperawatan AN-NUR PURWODADI
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis tidak lepas dari kesulitan dan hambatan. Namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak maka penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
1. Dr. Iman Purwadi Selaku Direktur Akademi Keperawatan AN-NUR PURWODADI
2. Nining, AMK Selaku Pembimbing dari RSU Tidar Magelang
3. Sahridawati Rambe, A.Kep Selaku Dosen Pembimbing Materi dan Teknis yang telah mencurahkan segenap pikiran dan waktu selama penulis menyusun KTI
4. Segenap Staff dan Dosen Akper AN-NUR PURWODADI
5. Ny. G dan Keluarga Selaku pasien yang telah bersedia memberikan informasi dan bekerja sama dengan penulis selama melaksanakan asuhan keperawatan
6. Bapak, Ibu, Kakak dan keluarga tercinta yang banyak memberikan doa dan memberikan dukungan materiil dan spritiual sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
7. Seseorang yang sangat perhatian memberi dukungan dan motivasi dalam melangkah.
8. Rekan-rekan seperjuangan Angkatan VIII yang telah sukarela membantu penulis.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk semua pihak terutama dalam bidang kesehatan. Amin
Purwodadi, Juni 2006
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Suatu kehamilan yang berakhir sebelum periode Urabilitas janin yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap 139 hari dihitung dari hari pertama haid berakhir normal yang dapat dipakai (Taber, 1994 : 56). Istilah abortus digunakan untuk menunjukan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Abortus disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kelainan pertumbuhan hasil konsepsi kelainan pada plasenta. Penyakit ibu maupun kelainan fraktus genetalis. Sampai saat ini janin terkecil yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan mempunyai berat badan 294 gram. Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan kecuali apabila terjadi komplikasi juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala ringan sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai haid terlambat diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15 %.
(Wiknjosastro, 2005 : 302)
Untuk mempergunakan umur kehamilan, untuk menetapkan abortus pada kesulitan dan kelemahannya. Kesulitannya ialah apabila tanggal haid terakhir tidak dapat diketahui lagi misalnya terlupa atau haid tidak teratur, atau kehamilan yang terjadi setelah berhenti menggunakan kontrasepsi hormonal. Kelemahannya ialah sukar menetapkan kapan kehamilan itu mulai bersemi karena sukar menetapkan ovulasi mengalami fertelisasi dan saat implantansi Blastokista pada disidua, pada haid yang reguler ovulasi terjadi rata-rata 14 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang implantasi blastokista terjadi pada hari ke 5 atau ke 6 setelah fertilisasi atau kira-kira 8 hari sebelum haid yang akan datang.
( Chalic 1997 : 2)
Insidens abortus sulit ditentukan karena kadang-kadang seorang wanita dapat mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil dan ia tidak mempunyai gejala yang hebat sehingga hanya dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus memanjang). Terlebih lagi insidens abortus preminalis sangat sulit ditentukan karena biasanya tidak dilaporkan oleh rumah sakit sebagai rasio dari jumlah abortus terhadap jumlah kelahiran hidup. Di USA angka kejadian secara nasional berkisar antara 10-20%
(Sastrawinata, 2004 : 2)
Sesuai Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 dilaporkan 6% kehamilan dalam periode 1992-1997 berakhir dengan keguguran, angka keguguran lebih tinggi didaerah perkotaan (7%) daripada pedesaan (5%) secara umum kehamilan yang tidak diinginkan (tidak direncanakan atau tidak diharapakan) telah turun dari 17% (1991-1994) menjadi 14% (1994-1997).
(Surjadi, 2000 : 62)
Angka kejadian abortus pada tahun 2005 di Rumah Sakit Tidar Magelang sebanyak 93 orang. Umur terbanyak pasien yang mengalami abortus yaitu diantara umur 17-19 dengan jumlah pasien 38 orang dengan persentase 40,8% dan urutan kedua berumur diantara 20-24 dengan jumlah pasien 19 orang dengan persentase 20,4% dan urutan ketiga berumur diantara 25-29 dengan jumlah pasien 18 orang dengan presentase 19,3% dan urutan keempat pada umur 30-34 tahun dengan jumlah pasien 10 orang dengan presentase 10,7% dan yang kelima pada umur 35-39 tahun dengan pasien jumlah 5 orang dengan persentase 5,3% dan yeng terakhir umur 40-44 tahun dengan jumlah pasien 3 orang dengan persentase 3,2%.
(Rekam medik RSU Tidar Megelang,2005)
B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian laporan ini adalah
Tujuan umum : Agar penulis dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan abortus iminens
Tujuan khusus :
1. Agar penulis mampu menjelaskan pengertian dari abortus iminens.
2. Agar penulis mampu menyebutkan faktor penyebab terjadinya abortus iminens.
3. Agar penulis mampu melaksanakan pengkajian-pengkajian pada pasien abortus iminens.
4. Agar penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien abortus iminens dengan mengaplikasikan teori model konseptual keperawatan menurut Gordon.
5. Agar penulis mampu menetapkan rencana keperawatan pada pasien dengan abortus iminens dengan mengaplikasikan teori model konseptual keperawatan menurut Gordon.
6. Agar penulis mampu mengimplementasikan intervensi keperawatan menurut Gordon.
7. Agar penulis mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada pasien abortus iminens dengan mengaplikasikan teori model konseptual menurut Gordon.
C. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana asuhan keperawatan Ny. G dengan abortus iminens diruang Budi Rahayu RSU Tidar Magelang pada tanggal 7 Mei 2006 dengan mengaplikasikan teori model konseptual keperawatan menurut Gordon.
D. RUANG LINGKUP
Dari sekian kasus yang ada dengan abortus iminens yang dirawat diruang BR. RSU Tidar Magelang. Maka penulis membatasi masalah dengan mengambil satu kasus abortus iminens pada Ny.G yang dilakukan pada tanggal 7 Mei 2006 – 10 Mei 2006.
E. MANFAAT PENULISAN
1. Bagi penulis
a. Menambah pengetahuan tentang abortus iminens dalam memberikan asuhan keperawatan
b. Dapat memperoleh pengalaman yang nyata dan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada pasian abortus iminens yang sesuai kewenangan. Kompentensi dan standart pelayanan keperawatan
c. Penulis dapat membandingkan antara teori dan praktek tentang abortus iminens
2. Bagi lahan
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada umumnya dan meningkatkan mutu pelayanan pada penderita dengan abortus iminens pada khususnya
3. Bagi Institusi
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan dibidang pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang akan datang.
b. Dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan pengetahuan mahasiswanya sejauhnya dalam menetapkan asuhan keperawatan pada penderita dengan abortus iminens.
c. Bagi masyarakat
Dapat meningkatkan pengetahuan pada masyarakat tentang abortus iminens sehingga masyarakat mengerti dan mampu mendeteksi diri tanda dan gejala awal abortus iminens.
Metode Peroleh Data
Didalam menyusun karya tulis ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi suatu keadaan secara obyektif, metode ini digunakan untuk memecahkan dan menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Metode ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/analisa data, membuat kesimpulan dan laporan.
(Notoatmodjo, 2005 : 138)
Adapun bentuk pengolahan data :
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang di pergunakan untuk mengumpulkan data, dimana penulis mendapatkan keterangan atau pendirian secara benar dari seseorang sasaran (responden) atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut.
(Notoatmodjo, 2005 : 102)
2. Pengamatan (observasi)
Pengamatan adalah suatu hasil pembuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan suatu prosedur berencana yang antara lain melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang dibelenggu
(Notoatmodjo, 2005 : 93)
Pengamatan meliputi :
a. Beberapa Pemeriksaan Fisik
Yaitu pemeriksaan data tertentu untuk menunjukkan lebih tepatnya observasi yang dilakukan selain dengan panca indera juga memakai instrumen atau pengatur yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi untuk mendapatkan data obyektif.
b. Studi Dokumentasi
Yaitu melihat catatan-catatan medis dari dokter dan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai data penunjang.
c. Daftar Pustaka
Semua literatur atau bacaan yang digunakan untuk mendukung dalam menyusun laporan tersebut
(Notoatmodjo, 2005 : 50)
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan dalam karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari : latar belakang masalah, tujuan penulisan, rumusan masalah, ruang lingkup masalah, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.
BAB II : Konsep dasar terdiri dari konsep medis yang berisi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis pemeriksaan penunjang, komplikasi dan penatalaksanaan. Adapun konsep medis yang terdiri dari pengakajian data dasar klinikal pathway dan fokus intervensi
BAB III : Tinjauan kasus yang berisi tentang pengkajian antara data, diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas, rencana interfensi, evaluasi, implentasi, evaluasi perkembangan.
BAB IV : Pembahasan yang berisi tentang pembahasan yang mampu memberikan solusi dengan alasan-alasan yang dapat di pertanggungjawabkan (acaountility dan berorientasi pada problem solving (pemecahan masalah)) dengan argumentasi ilmiah logis terhadap permasalahan yang timbul pada kenyataan lapangangan dengan pandangan secara teoritis.
BAB V : penutup berisi kesimpilan dan saran-saran yag lebih menekankan pada usulan yang sifatnya lebih operasional/aplikatif
Daftar Pustaka dan Lampiran.
BAB II
KONSEP DASAR
A. DEFENISI
ABORTUS adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu.
(Manuaba, 1998 : 214)
ABORTUS adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
(Eastman, 2005 : 209)
ABORTUS adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan sampai saat ini janin yang terkecil yang dilaporkan yang dapat hidup diluar kandungan mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu.
(Wiknjosastro, 2005 : 302)
ABORTUS adalah istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas janin yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139 hari) dihitung di hari pertama haid terakhir normal yangdapat dipakai.
(Taber, 1994 :56)
ABORTUS dapat di bagi menjadi :
A. Berdasarkan terjadinya :
1. Keguguran spontan
Terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri.
2. Keguguran buatan
Sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri, upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan :
a. Indikasi Medis
Menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu untuk dapat menyelamatkan jiwanya. Indikasi medis tersebut diantaranya :
- penyakit jantung, ginjal atau hati yang berat
- gangguan jiwa ibu
- dijumpai kelainan bawaan berat dengan pemeriksaan ultrasonogrfi
- gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
b. Indikasi Sosial
Pengguguran kandungan dilakukan atas dasar aspek sosial
- menginginkan jenis kelain tertentu
- Tidak ingin punya anak
- Belum siap untuk hamil
- Kehamilan yang tidak diinginkan
B. Berdasarkan Pelaksanaannya
Berdasarkan pelaku gugur kandung dapat dibagi atau dikelompokkan
1. Keguguran buatan teraupetik
Dilakukan tenaga medis secara legaltis berdasarkan indikasi medis
2. Keguguran buatan ilegal
Dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum
C. Berdasarkan gambaran klinisnya gugur kandung dibagi menjadi :
1. Keguguran lengkap (abortus kompletus)
Semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya
2. Keguguran tidak lengkap (abortus inkompletus)
Sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyakit
3. Keguguran mengancam (abortus iminens)
4. Keguguran tak terhalangi
5. Keguguran habitualis
6. Keguguran dengan infeksi (abortus infeksiolus)
7. Missed abortion
(Manuaba, 1998 : 214)
D. Menurut gambaran klinik abortus dapat dibedakan antara lain :
1. Abortus iminens
Peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan 20 minggu menghasilkan konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi seniks
2. Abortus Insipiens
Peristiwa pendarahaan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih didalam uterus
3. Abortus Inkompletus
Penguluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus
4. Abortus Kompletus
Semua hasil konsepsi dikeluarkan dari uterus pada penderita ditemukan pendarahaan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah banyak mengecil
5. Abortus Servikalis
Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka sehingga semuanya berkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar kurang lebih bundar dengan dinding menipis
6. Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih
7. Abortus habitualis
Abortus spontan yang terjadi 2 kali atau lebih berturut-turut
8. Abortus Infeksialis
Abortus yang disertai infeksi pada genetalia
9. Abortus septik
Abortus infeksiolus berat disetai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritonium
(Wiknjosastro, 2005 : 305)
E. ETIOLOGI
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudiqah.sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan kelainan abortus dapat dibagi sebagai berikut :
A. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat, kelinan berat biasanya menyebabkan kematian muduqah pada hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut :
a. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliplaidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
b. Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endotrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu
c. Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagian dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi atau lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh itu pada umumnya dinamakan pengaruh teratogen
B. Kelainan pada plasenta
Endoteritis dapat menjadi dalam vilikorialis dan menyebabkan .plasenta tertanggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun
C. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis pielonifritis, malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus, toksin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin. Sehingga menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus
D. Kelainan traktes genetalis
Retroversio uteri, miomata uteri atau kelainan bawaan dapat menyebabkan abortus tetapi harus diangat bahwa hanya retroversio uteri inkarserata atau uterus mioma submukosa yang memegang peranan penting sebab lain abortus dalam trimester ke 2 ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks. Dilaktasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks luas yang tidak dijahit
(Wiknjosastro, 2005 : 203)
F. MANIFESTASI KLINIK
• Terdapat keterlambatan datang bulan
• Terdapat pendarahan disertai perut sakit (mulas)
• Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur hamil dan terjadi kontraksi otot rahim
• Hasil pemeriksaan dalam terdapat pendarahan dari kanalis servikalis masih tertutup dapat dirasakan kontraksi ototr rahim
• Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif
(Manuaba, 1998 :128)
G. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya keguguran dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan pendarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas dianggap benda asing sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan, seluruh atau bagian masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut. Karena kontraksi rahim terjadi pendarahan dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
Bentuk pendarahan bervariasi diantaranya :sedikit dan berlangsung lama sekaligus dalam jumlah yang besar disertai dengan gumpalan. akibat pendarahan tidak menimbulkan gangguan apapun, tetapi menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, dampak anemeis dan daerah ujung (akral) dingin.
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi. Umur hamil dibawah 14 minggu dimana plasenta belum dibentuk sempurna dikeluarkan atau sebagian hasil konsepsi. Diatas 16 minggu dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi dan dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta. Berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaterus. Hasil konsepsi tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembentukan darah. Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi :
- Mola karnosa : hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging
- Mola heberose : amnion berbenjol-benjol karena terjadi hemotoma antar amnion dan korion
- Fetus kompresus : janin mengalami mummifikasi, terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng
- Fetus papireseus : kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan laksana kertas
- Blighted ovum : hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin hanya benda kecil yang tidak berbentuk
- Missed akortion : hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu
(Manuaba, 1998 :216)
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes kehamilan positif bila janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibronogen darah pada missed abortion
I. KOMPLIKASI ABORTUS
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah pendarahan perforasi, infeksi dan syok
1. Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena pendarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati-amati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi. Penjaitan luka perforasi atau perlu histerektomi perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas mungkin mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi
3. Infeksi
Biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemorogik) dan karena infeksi perut (syok endoseptik)
(Wiknjosastro, 2005 : 313)
J. PENATALAKSAAN
Pada pasien abortus imenens dilaksanakan dengan
a. Istirahat total di tempat tidur
- Meningkatkan aliran darah ke rahim
- Mengurangi rangsangan mekanis
b. Obat-obatan yang diberikan
- Penenang penobarbital 3x30 mgram, valium
- Anti pendarahan : Adona, Transamin
- Vitamin B komplek
- Hormonal : Progesteron
- Penguat plasenta : Gestanom, Dhupaston
- Anti kontraksi rahim : Duvadilan, Papaverin
c. Evaluasi
- Pendarahan jumlah dan lamanya
- Tes kehamilan dapat diulangi
- Konsultasi pada dokter ahli atau penanganan lebih lanjut dan pemeriksaan ultrasonografi
(Manuaba, 1998 : 218)
BAB III
TINJAUAN KASUS
I. PENGKAJIAN
Pengkajian ini dilakukan pada hari Senin tanggal 7 Mei 2006 jam 08.00 WIB di Ruang VK yang berlanjut di Ruang BR RSU TIDAR Magelang secara autoanamnesa dan autoanamnesia
A. IDENTITAS IBU
a. Pasien
Nama : Ny. G
Umur : 28 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : Jln. Nuklir A3 RT.1/RW.10 Joyonegoro
b. Identitas Penanggungjawab
Nama : Tn. J
Umur : 32 tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Jln. Nuklir A3 RT.1/RW.10 Joyonegoro
B. RIWAYAT PERAWATAN ANTENATAL
1. G1, Po, Ao
2. Riwayat penggunaan kontrasepsi
- Jenis : -
- Kapan : -
- Tanggal terakhir pemakaian : -
- Keluhan : -
3. Riwayat Menstruasi
- Awal menstruasi : 13 tahun
- Siklus : 7 hari
- Keluhan : pasien disminore setiap haid
- Menstruasi terakhir : 5 Februari 2006
4. Riwayat Kehamilan
- Minggu ke : 13 lebih 5 hari
- Tes kehamilan : menggunakan alat tes sensitif hasil positif
- Urine : warna kuning pekat, bau khas
- Darah : kadang-kadang keluar dari vagina kira-kira 100cc
- Keluhan / masalah : pasien mengatakan badan terasa lemas
- Pemakaian obat-obatan
- Adakah kebiasaan :
- Merokok : tidak
- Minum alkohol : tidak
5. Riwayat kehamilan dulu
Pasien pertama kalinya hamil
6. Riwayat kesehatan yang lalu
Pasien sebelumnya tidak pernah mengalami masalah seperti ini, karena ini adalah kehamilan yang pertama. Tetapi pasien hanya mengalami disminore saat haid
7. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat abortus seperti yang dialami pasien dan tidak ada yang mempunyai penyakit menurun dan menular dan tidak ada riwayat gemeli, kelainan dalam persalinan
8. Pengkajian pada fungsional menurut Gordon
a. Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Pasien mengatakan kesehatn itu sangat penting dalam menjaga kesehatannya dan bila sakit pasien memeriksakan ke pelayanan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolis
Sebelum sakit : pasien makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk-pauk dan terkadang buah-buahan. Dan minum air putih 7-8 gelas/hari terkadang minum susu.
Selama sakit : pasien tidak ada pantangan makan. Pasien makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk-pauk dan buah. Pasien habis ½ porsi. Pasien minum habis 4 gelas/hari
c. Eliminasi
Sebelum sakit : pasien BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lembek, bau khas, warna kuning, tidak ada lendir maupun darah. Pasien BAK 5 kali sehari dengan warna kuning pekat, bau khas.
Selama sakit : pasien BAB 1 kali dalam 2 hari dengan konsistensi lembek, bau khas, warna kuning, tidak ada lendir maupun darah. Pasien BAK 6 kali sehari, dengan warna kuning, bau khas
d. Pola aktifitas dan latihan
Sebelum sakit : pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari seperti memasak, mencuci, mengambil air dikerjakan sendiri dan pasien sering lelah
Setelah sakit : pasien beristirhat total, aktifitas dibantu keluarga, semua aktifitas dilakukan ditempat tidur secara umum pasien dapat beristirahat walaupun saat nyeri datang pasien tidak dapat tidur
e. Pola persepsi dan kognitif
Selama kehamilan pasien memeriksakan kehamilannya ke bidan 1 bulan sekali. Pasien belum paham benar dengan kehamilannya karena ini merupakan kehamilan pertama
f. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit : pasien tidur 7-8 jam tidur siang 2-3 jam tanpa gangguan lain
Selama sakit : pasien tidur 5 jam tapi sering terbangun karena rasa nyeri yang sering datang pada saat tidur
g. Pola persepsi dan konsepsi diri
Gambaran diri : pasien tampak merasa sedih dan lemas, penampilan kusut
Ideal diri : pasien aka menjadi ibu dari anak yang dikandungnya
Peran diri : pasien seorang ibu rumah tangga dan sebentar lagi mempunyai tanggung jawab menjadi seorang ibu
Harga diri : pasien senang dengan bayi yang dikandungnya
Identitas diri : pasien berkonsentrasi penuh dengan kandungannya
h. Pola peran dan hubungan
Pasien berperan sebagi seorang istri dan ibu rumah tangga. Hubungan pasien dengan para tetangga sangat baik.
i. Pola seksual dan reproduksi
Pasien menikah pada umur 25 tahun. Lama pernikahan 2 tahun dan sekarang pasien sedang hamil
j. Pola koping dan toleransi dengan stress
Pasien setiap ada masalah selalu mendiskusikan dengan keluarga dan pasien senang dengan kehamilannya tetapi pasien merasa cemas karena merupakan kehamilan pertama.
k. Pola nilai dan kepercayaan
Pasien beragama Islam. Sebelum sakit pasien selalu mengerjakan solat 5 waktu tetapi selam sakit pasien hanya mampu berdoa untuk kesembuhannya
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
a. Penampilan : lemah
b. Kesadaran : composmetis
2. Tanda-tanda vital
a. Tekanan darah : 110/80 mmHg
b. Respiratorerate : 20 /menit
c. Nadi : 60 / menit
d. Suhu : 37 C
3. Tinggi tubuh : 153 cm
Berat tubuh : 48 kg
4. Kepala
a. Bentuk kepala : Mesoshefal
b. Rambut : Rambut hitam panjang, tak mudah rontok, tak ada ketombe, tak ada lezi
c. Mata : Pasien tidak menggunakan bantu penglihatan, konjugtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
d. Hidung : tidak ada pembesaran polip dan tidak ada pendarahan, bentuk simetris
e. Telinga : bentuk simetris, tidak ada penumpukan serumen, tidak menggunakan alat bantu pendengaran
f. Mulut : tidak ada pendarahan gusi, mukosa bibir lembab
5. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar teroid
6. Dada
Paru-paru
- I : Simetris, tidak ada retraksi interkosta
- Pe : sonor
- Pa : Tidak ada nyeri tekan
- A : visikuler
Jantung
- I : Ictus Codis tak tampak
- Pe : pekak
- Pa : Ictus codis tidak teraba
- A : reguler
7. Abdomen
- I : Perut tampak membuncit sesuai kehamilan, tidak ada bekas operasi terdapat linia nigra
- A : Peristaltik usus 18 /menit
- Pe : Timpani
- Pa : Tak ada nyeri tekan, TFU 2 jari diatas simfisis
8. Genetalia : Kotor, terpasang pembalut, tak terpasang kateter
9. Anus : Tidak ada hemoroid
10. Ekstremitas
11. Superior : gerak terbatas, terpasang infus RL 20 kali per menit tidak ada oedem
Interior : gerak terbatas, tidak ada oedem
12. Kulit : warna kulit sawo matang, turgo kulit baik
D. DATA PENUNJANG
1. USG tanggal 7 Mei 2006 jam 20.00 WIB
Hasil :
- Janin tunggal, hidup, intra uteri
- Janin umur 13 minggu
Data laboratorium : 8 Mei 2006
- LHBC : 10,6 x 10 % /dl - MXD : 6,4 %
- RBC : 3,65 x 10 % /dl - NEUT : 67,9
- HGB : 10,8 g/dl - LXM : 2,7 x 103
- MCT : 32,5 % - NEUT :7,2 x 103
- MCV : 8 gr - RDW : 45,4 Fl
- MCH : 33,29 / dl - MPV : 9,8 Fl
- PLT : 195 x 103 - P-LCd : 25,4 %
- LXM : 25,7% - Albumen : 2,2 g/dl
2. Terapi tanggal 7 Mei 2006
- infus RL 20 tetes/menit
3. Terapi oral
- Mivedipin tablet 3 x 1 per oral
- Papaverin 3 x 1 per oral
- Amoxilin tablet 3 x 1 per oral
- Injeksi viliron 1 ampul
4. Terapi tgl 8 Mei 2006
- Asam mefenanet 3 x 1 per oral
- Duvadilan tablet 3 x 1 per oral
II. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian Data Dasar
Pengkajian perawatanmeliputi data tentang physiologic. Physiologi dan status sosial ekonomi. Perawatan seringkali membuat keputusan pada langkah pertama dan mempertimbangkan alternatif dan pilihan yang tepat.
1. Riwayat Obstetri
Tentang sejarah wanita dalam penggunaan kontrasepsi pertahun khususnya difokuskan pada menstruasi dan penggunaan obat-obatan
2. Riwayat Keluarga
Tentang kondisi pembedahan dalam penggunaan kontrasepsi di riwayat aborsi
3. Riwayat Psycologi
Dimana perawat mengkaji wanita dan pasangan untuk menggungkapkan proses terdeteksi hamil untuk meminimalkan resiko terjadinya komplikasi sehingga perawat memfokuskan pada pemecahan masalah. Dan intervensi untuk membantu pasien dan pemecahan masalah perlu perencanaan waktu lebih awal dantepat dalam proses membuat keputusan. Wanita menginginkan partner atau orang lain dalam pembuatan keputusan tersebut dan ini sangat penting khususnya tanda dari permasalahan sebagian masyrakat.
4. Riwayat Fisiologi
Sistem kekuatan dari ibu untuk mengungkapakan perasaannya. Karena arti ini sangat komplek dan mempunyai penilaian tentang reproduksi. Kehamilan dapat terjadi kecelakaan yang komplek dan dapat digunakan untuk mempengaruhi hubungan dengan orang yang penting dalam kehidupan
5. Seksualitas
Aktifitas seksual dan kapasitas reproduksi
(Reede, 1997 : 305)
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan pola fungsional Gordoon kerana pada pola tersebut terbentuk dari hubungan antara pasien dan lingkungan dan dapat digunakan untuk perseorangan atau komunikasi. Pola-pola tersebut meliputi :
1. Persepsi kesehatan pada manjemen kesehatan mengabarkan pola pemahaman dan bagaimana kesehatan meraka diatur.
2. Pola metabolik-nutrisi, menggambarkan konsumsi relatif terhadap kebutuhab metabolik dan suplai gizi, meliputi pola konsumsi makanan dan cairan keadaan kulit rambuty, kuku dan membran mukosa, suhu tubuh tinggi dan berta badan.
3. Pola eleminasi, menggambarkan pola fungsi eksresi (usus besar, kandung kemih dan kulit) termasuk pola individu sehari-hari. Perubahan atau gangguan dan metode yang di gunakan untuk mengendalikan eksresi.
4. Pola aktifitas olah raga, menggambarkan aktifitas mengisi waktu senggang dan rekreasi, termasuk aktifitas kehidupan sehari-hari. Tipe dan kualitas olahraga dan faktor-faktor yang mempengaruhi pola aktifitas seperti otot, syaraf, respirasi dan sirkulasi.
5. Pola tidur istirahat, menggambarkan dan relaksasi setiap bantuan untuk merubah pola tersebut
6. Pola persepsi kognitif, menggambarkan pola persepsi sonsorik dan kognitif. Meliputi kekuatan bentuk sensor (penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penghirupan). Pelaporan mengenai persepsi sensori dan kemampuan fungsi kognitif.
7. Pola persepsi diri – konsep diri, menggambarkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri kemampuan mereka, gambaran diri dan perasaan.
8. Pola hubungan peran, menggambarkan pola keterikatan peran dengan hubungan meliputi, persepsi terhadap peran utama dan tanggung jawab dalam sehari kehidupan saat ini
9. Pola reproduksi seksualitas, menggambarkan kepuasan atau ketidakpuasan dalam seksualitas termasuk satatus reproduksi wanita
10. Pola koping-toleransi- stress, menggambarkan pola koping umum dan kefektifitasan ketrampilan koping dalam metode rasa stress
11. Pola nilai kepercayaan , meggambarkan pola nilai ajaran atau kepercayaan (termasuk kepercayaan spiritual) yang menggambarkan pilihan dan keputusan gaya hidup
(Potter, 1996 : 10)
B. Pengkajian Fisik
1. Riwayat menstruasi dan periode terakhir menstruasi menggunakan kontrasepsi.
2. Membantu pemeriksaan fisik, mengumpulkan data spesimen tes kehamilan untuk menentukan lamanya hamil secara fisiologi dan metode kontrasepsi untuk mengetahui mengenai alternatif abortus.
3. Kehamilan dan riwayat kesehatan untuk mengidentifikasi khususnya kebutuhan dan resiko.
4. Keadaan di sekeliling yang tidak diperlukan dalam konsepsi
5. Tingkatan dari pertentangan tentang abortus
6. Hubungan keterlibatan dalam keluarga orang tua dan memberi dukungan
7. Krisis dari presentasi yang lebih lanjut yang membutuhkan psikologi konseling
(Reeder, 1997 :308)
III. Fokus Intervensi
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesesuian pilihan prosedur normalnya emosi perwatan diri
Intervensi :
- Menasehati panjang waktu selama hamil
- Memberikan indikasi dari kehamilan
- Mendiskusikan tipe dari prosedur abortus
- Memberitahu komplikasi dari kehamilan
- Memberitahu resiko dari kehamilan
2. Pengeluaran pendarahan berhubungan dengan tanda dan gejala dari komplikasi resumsi aktifitas sosial, kontrasepsi, seksual, sumber komunitas perawatan saat pemeriksaan
Intervensi
- Memberi nasehat komplikasi
- Memberi penjelasan tentang pencegahan dari abortus
- Menjelaskan rangkaian untuk mengurangi aktifitas seksualitas
- Memberi penjelasan perawatan pada saat pemeriksaan
3. Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan prosedur abortus
Intervensi
- Memberi nasehat komplikasi setelah abortus
- Mengakaji pilihan alternatif dari abortus
- Membantu meminimalkan trauma jaringan pada resiko infeksi
- Menjaga klien dan memberi dukungan dan klasifikasikan selama prosedur abortus
4. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
Intervensi
- Membantu memperkecil trauma jaringan dan resiko infeksi
- Memberi perawatan selama kehamilan
- Memberi pencegahan tidak terjadi abortus
5. Koping individu tidak efektif terhadap depresi berhubungan dengan respon emosional
Intervensi
- Anjurkan konseling psikologi jika diindikasikan
- Mendiskusikan kunjungan kontrasepsi lanjut dan reaksi emosional
- Memberi dukungan atau motivasi kepada klien
- Menyediakan kesempatan untuk respon ekspresi emosional konflik
6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehamilan
Intervensi
- Memberi dukungan atau motivasi kepada klien
- Menganjurkan pasien untuk penyerahan psikologi
- Memberi pemecahan konflik permasalahan
- Memberi perwujudan stress dan menaikkan resolusi
7. Gangguan proses keluarga berhuhubungan dengan efek abortus yang adad hubungan (ketidak adanya persetujuan, status kawin, dan konflik pribadi) masalah identitas orang dewasa.
Intervensi
- Anjurkan konseling psikologi seksual jika diindikasikan
- Memberi motivasi pada pasien
(Reeder, 1997 : 308)
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada BAB IV ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan pada nyonya G dengan abortus imminens di ruang BR RSU. Tidar Magelang. Disini penulis akan menguraikan tentang bagaimana masalah keperawatan tersebut. Dan apa akibat yang terjadi bila masalah tersebut tidak teratasi. Dan rasional tindakan yang dilakukan dan bagaimana hasil evaluasi yang dicapai setalah implementasi. Disini penulis akan membahas kesenjangan antara teori dan lapangan. Adapun diagnosa yang muncul pada abortus menurut (Reeder , 1997 :308) yaitu
a. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kesesuaian pilihan prosedur normalnya emosi perawatan diri
b. Pengeluaran pendarahan berhubungan dengan tanda dan gejala dari komplikasi resumsi dari aktifitas seksual kontrasepsi, seksualitas, sumber komunitas perawatan pada saat pemeriksaan
c. Gagngguan nyaman nyeri berhubungan dengan prosedur abortus
d. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
e. Koping individu tidak efektif terhadap depresi berhubungan dengan respon emosional
f. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehamilan
g. Gangguan proses keluarga berhubungan dengan proses abortus yang ada hubungannya (tidak adanya persetujuan status kawin dan konflik pribadi). Masalah identitas orang dewasa.
Disini penulis menemukan diagnosa yang muncul pada Ny.G yaitu :
a. Intoleran aktifitas berhubungan denganpencegahan abortus lebih lanjut
b. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada kematian janin.
c. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan pencegahan abortus lebih lanjut.
Yang dimaksud intoleransi aktifitas adalah penurunan dalam kapasitas fisiologis seseorang untuk melakukan aktiftas sampai tingkat yang diinginkan atau yang di butuhkan (Carpenito, 2000 : 2). Intoleransi aktifitas ini muncul dari data mayor selama aktifitas, kelemahan, pusing, dispniea, 3 menit setelah aktifitas pusing, depsniea keletihan akibat aktifitas, frekuensi pernafasan lebih dari 24 dan frekuensi nadi lebih dari 25. Dan dari data minor : pucat atau sianosis, kontusi dan vertigo ( Carpenito, 2000 : 2).
Penulis memprioritaskan masalah ini pertama sesuai dengan kebutuhan fisiologis menurut Abraham Maslow (Effendy, 1998 : 3).Dengan hasil yang diharapkan pasien melaporkan peningkatan intoleran aktifitas (termasuk aktifitas sehari-hari)dengan kriteria waktu 2 x 24 jam.
Adapun rencana yang dibuat adalah ukur tanda vital pasien rasionalisasinya untuk menujukan kecenderungan menentukan respon pasien terhadap aktifitas. Anjurkan pasien untuk mengikuti aktifitas dengan istirahat yang cukup rasionalisasinya untuk menghemat energi dan menghindari pengerahan tenaga terus menerus (Dongoes, 2001 : 123). Anjurkan keluarga membantu aktifitas pasien rasionalnya hal ini untuk mencegah terjadinya kelemahan. Anjurkan pasien istirahat dan penggunaan posisi miring kiri rasionalnya untuk menurunkn iritabilitas uterus (Dongoes,2001:126)Anjurkan nuntuk bedrest total rasionalnya untuk mengurangi aktifitas dan stress sehingga dapat membantu menurunkan ketegangan mengurangi kontraksi uterus.
Evaluasi yang didapatkan jam 11.00 pada hari ke 2 tanggal 8 Mei 2006 yaitu pasien sudah tidak cemas lagi ,darah sudah tidak keluar, masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Faktor pendukung dalam implementasi yang dilakukan penulis yaitu pasien mengikuti tindakan yang dilakukan oleh penulis sedangkan faktor penghambatnya pasien lebih aktif dalam melakukan aktifitas dan kadang tidak memikirkan akibatnya.
2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada kematian janin.
Yang dimaksud ansietas adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktifitas sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas non spesifik (Carpenito, 2000 : 9) ini bisa dibuktikan dengan peningkatan tegangan ketakutan. Perasaan tidak adekuat, keluhan-keluhan somatik (Doengoes,2006:121)
Data mayor dimanifestasikan oleh gejala-gejala dari katagori fisiologis emosional dan kognitif.gejala-gejala bervariasi sesuai dengan tingkat ansietas. Fisiologi sendiri meliputi peningkatan frekuensi jantung, peningkatan tekanan darah peningkatan frekuensi pernapasan, diaforesis, insomnia keletihan dan kelemahan mulut kering, gelisah, gemetar, bedebar-debar sering berkemih, diare, emosional meliputi ketakutan ketidak berdayaan gugup dan kurang percaya diri sedangkan kognitif tidak dapat konsentrasi kurang kesadarn tentang sekitar.(Carpenito, 2000 : 9).
Masalah keperawatan ini diprioritaskan kedua sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan keamanan dan keselamatan (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu 2 x 24 jam dengan hasil yang diharapkan pasien tidak cemas.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk berfungsi membuat keputusan rasionalnya stres yang tidak diatasi dengan mempengaruhi tugas tugas kehamilan, anjurkan pasien untuk menghindari mengakat berat rasionalnya aktifitasnya yang ditoleran sebelumnya mungkin tidak dapat di indikasikan untuk untuk wanita berisiko,anjurkan pasien untuk memodifikasi atau menghilangkan segala jenis aktifitas seksual rasionalnya karena aktifitas seksual termasuk orgasme dan stimulasi payudara.mampu meningkatan kepekaan uterus karena pelepasan oksitosin.tekankan pentingnya aktifitas hiburan yang tenag rasionalnya mencegah kebosanan dan meningkatkan kerja sama dengan pembatasan aktifitas ,anjurkan pasien untuk tirah baring rasionalnya aktifitas mungkin perlu modifikasi tergantung pada gejala-gejala aktifitas uterus perubahan serviks, kolaborasi tim medis.(Doengoes, 2000 : 121)
Evaluasi yang didapatkan pada tanggal 8 Mei 2006 pada hari ke 2 yaitu pasien mengatakan sudah bisa beraktifitas dan aktifitas pasien bisa dilakukan sendiri. TD 120/80 mmHg. Masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Faktor pendukung pada implementasi yang dilakukan penulis yaitu pasien mengikuti tindakan yang dilakukan oleh penulis sedangkan faktor penghambatnya pasien lebih aktif dan mengerti dengan cara dipraktekan daripada dengan bahasa
Pembenaran :
Penulis mendapatkan data tentang pasien yang dibantu oleh keluarga dan perawat, misalnya mandi dibantu oleh perawat dan keluarga.
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan
Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami difisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi rencana pengobatan (Carpenito, 2000 : 223) karena kurangnya pemajaan pada dan atau kesalahan interprestasi tentang informasi tidak mengenal resiko individu atau peran sendiri pada pencegahan atau pelaksanaan resiko.(Dongoes, 2000 : 431)
Data mayor yang mendukung mengungkapkan pengetahuan atau penampilan dan permintaan informasi mengekspresikan suatu ketidak akuratan persepsi status kesehatan,melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan dan data minor ditemukan kurang integrasi tentang rencana pengobatan kedalam aktifitas sehari-hari,memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (misalnya ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi.
Masalah keperawatan yang dilakukan ini diprioritaskan terakhir sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan dasar aktualisasi diri (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu yang diperlukan 20 menit dengan hasil yang diharapkan pasien dapat mengerti tentang kehamilanya.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain:kaji pengetahuan pasien rasionalnya untuk mengetahui tingkat pendidikanya .beri informasi tentang kehamilanya rasionalnya meningkatkan pemahaman akan dampak kehamilan pada proses penyakit, (Dongoes, 2001 : 119). Bantu pasien untuk mengidentifikasi teknik perawatan diri untuk individu rasioanalnya meningkatkan kepercayaan diri dalam perawatan diri (Dongoes,2001:119).anjurkan pasien untuk meporkan tentang perubahan kehamilan rasionalnya dapat mewujudkan perubahan kehamilanya yang dapat mencetuskan abortus. (Dongoes, 2001 : 120)
Hasil yang diperoleh pada jam 11.00 pada tanggal 9 Mei 2006 adalah pasien sudah memahami tentang kehamilanya,dan masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Dalam melakukan implementasi penulis mempunyai faktor pendukung dan penghambatnya.faktor pendukung:pasien kooperatif dalam tindakan yang dilakukan penulis dan penghambatnya :pasien tidak begitu mengerti jika penyuluhan lebih baik diberi contoh secara langsung
BAB V
PENUTUP
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada Ny.G dengan abortus imminens diruang BR RSU. Tidar Magelang. Penulis akan memberikan kesimpulan dan saran.
A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan yang dilakukan pada Ny. G dengan abortus imminens di ruang BR RSU Tidar Magelang, penulis menggunakan pola pengkajian menurut Gordon dimana pola tersebut dari hubungan antara pasien dan lingkungan dan dapat digunakan untuk perseorangan atau komunikasi (Patricia dan Potter, 1996 :10). Penulis menggunakan pola Gordon karena pola ini sesuai dengan pasien yang penulis dengan tujuan memandikan pasien
Diagnosa keperawatan yang ditemukan oleh penulis pada NY.G yaitu intoleran aktivitas berhubungan dengan pencegahan abortus lebih lanjut. Ansietas b/d krisis situasi ancaman pada kematian janin dan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan dari diagnosa keperawatan. Yang penulis temukan pada Ny.G dilakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut dan setelah dilakukan tindakan keperawatan. Semua masalah keperawatan yang diambil oleh penulis pada NY. G dapat teratasi
B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Dalam melakukan tindakan perlu diperhatikan kesetirilan dalam melakukan setiap prosedur tindakan dalam keperawatan.
2. Bagi Pasien dan Keluarga
Diharapkan mampu melakukan perawatan di rumah secara mendiri dengan menggunakn prosedur yang telah digunakan perawat
.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.
Chalik, TMA (1997), Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi, Widya Medika, Jakarta
Doengoes, E. Marylin (2001), Rencana Perawatan Maternal Bayi, EGC, Jakarta.
Effendi, Nasrul, (2000), Proses Keperawatan, EGC, Jakarta.
Manuaba, Ida Bagus Gde (1998), Pengkajian Kesehatan, EGC, Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo (2002), Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Aneka Cipta, Jakarta
Potter, Patricia. A, (1996), Pengkajian Keperawatan, EGC, Jakarta.
Reeder, Sharonj (1997), Maternity Nursing, for Library of Congress, Philadelpia
Sastrowinata, Sulaiamn (2004), OBSTETRI PATOLOGI, EGC, Jakarta.
Surjadi, Charles (2000), Kesehatan Reproduksi jaringan epidemilogi nasioanal, Jakarta
Taher, Ben-Zion (1994), Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, EGC, Jakarta
Winjosastro, Hanifa (2005), Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Aneka Cipta, Jakarta
ABORTUS IMINENS DI RUANG BR RSU TIDAR MAGELANG
TAHUN 2009
Oleh :
VICKAR INDAKA
AKADEMI KEPERAWATAN
“AN-NUR”
PURWODADI - GROBOGAN
2009
HALAMAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis dapat menyelesaikan laporan praktik dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah. Dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. G DENGAN ABORTUS IMINENS DI RUANG BR RSU TIDAR MAGELANG” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas di akademi keperawatan AN-NUR PURWODADI
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis tidak lepas dari kesulitan dan hambatan. Namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak maka penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
1. Dr. Iman Purwadi Selaku Direktur Akademi Keperawatan AN-NUR PURWODADI
2. Nining, AMK Selaku Pembimbing dari RSU Tidar Magelang
3. Sahridawati Rambe, A.Kep Selaku Dosen Pembimbing Materi dan Teknis yang telah mencurahkan segenap pikiran dan waktu selama penulis menyusun KTI
4. Segenap Staff dan Dosen Akper AN-NUR PURWODADI
5. Ny. G dan Keluarga Selaku pasien yang telah bersedia memberikan informasi dan bekerja sama dengan penulis selama melaksanakan asuhan keperawatan
6. Bapak, Ibu, Kakak dan keluarga tercinta yang banyak memberikan doa dan memberikan dukungan materiil dan spritiual sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
7. Seseorang yang sangat perhatian memberi dukungan dan motivasi dalam melangkah.
8. Rekan-rekan seperjuangan Angkatan VIII yang telah sukarela membantu penulis.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk semua pihak terutama dalam bidang kesehatan. Amin
Purwodadi, Juni 2006
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Suatu kehamilan yang berakhir sebelum periode Urabilitas janin yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap 139 hari dihitung dari hari pertama haid berakhir normal yang dapat dipakai (Taber, 1994 : 56). Istilah abortus digunakan untuk menunjukan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Abortus disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kelainan pertumbuhan hasil konsepsi kelainan pada plasenta. Penyakit ibu maupun kelainan fraktus genetalis. Sampai saat ini janin terkecil yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan mempunyai berat badan 294 gram. Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan kecuali apabila terjadi komplikasi juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala ringan sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai haid terlambat diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15 %.
(Wiknjosastro, 2005 : 302)
Untuk mempergunakan umur kehamilan, untuk menetapkan abortus pada kesulitan dan kelemahannya. Kesulitannya ialah apabila tanggal haid terakhir tidak dapat diketahui lagi misalnya terlupa atau haid tidak teratur, atau kehamilan yang terjadi setelah berhenti menggunakan kontrasepsi hormonal. Kelemahannya ialah sukar menetapkan kapan kehamilan itu mulai bersemi karena sukar menetapkan ovulasi mengalami fertelisasi dan saat implantansi Blastokista pada disidua, pada haid yang reguler ovulasi terjadi rata-rata 14 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang implantasi blastokista terjadi pada hari ke 5 atau ke 6 setelah fertilisasi atau kira-kira 8 hari sebelum haid yang akan datang.
( Chalic 1997 : 2)
Insidens abortus sulit ditentukan karena kadang-kadang seorang wanita dapat mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil dan ia tidak mempunyai gejala yang hebat sehingga hanya dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus memanjang). Terlebih lagi insidens abortus preminalis sangat sulit ditentukan karena biasanya tidak dilaporkan oleh rumah sakit sebagai rasio dari jumlah abortus terhadap jumlah kelahiran hidup. Di USA angka kejadian secara nasional berkisar antara 10-20%
(Sastrawinata, 2004 : 2)
Sesuai Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 dilaporkan 6% kehamilan dalam periode 1992-1997 berakhir dengan keguguran, angka keguguran lebih tinggi didaerah perkotaan (7%) daripada pedesaan (5%) secara umum kehamilan yang tidak diinginkan (tidak direncanakan atau tidak diharapakan) telah turun dari 17% (1991-1994) menjadi 14% (1994-1997).
(Surjadi, 2000 : 62)
Angka kejadian abortus pada tahun 2005 di Rumah Sakit Tidar Magelang sebanyak 93 orang. Umur terbanyak pasien yang mengalami abortus yaitu diantara umur 17-19 dengan jumlah pasien 38 orang dengan persentase 40,8% dan urutan kedua berumur diantara 20-24 dengan jumlah pasien 19 orang dengan persentase 20,4% dan urutan ketiga berumur diantara 25-29 dengan jumlah pasien 18 orang dengan presentase 19,3% dan urutan keempat pada umur 30-34 tahun dengan jumlah pasien 10 orang dengan presentase 10,7% dan yang kelima pada umur 35-39 tahun dengan pasien jumlah 5 orang dengan persentase 5,3% dan yeng terakhir umur 40-44 tahun dengan jumlah pasien 3 orang dengan persentase 3,2%.
(Rekam medik RSU Tidar Megelang,2005)
B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian laporan ini adalah
Tujuan umum : Agar penulis dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan abortus iminens
Tujuan khusus :
1. Agar penulis mampu menjelaskan pengertian dari abortus iminens.
2. Agar penulis mampu menyebutkan faktor penyebab terjadinya abortus iminens.
3. Agar penulis mampu melaksanakan pengkajian-pengkajian pada pasien abortus iminens.
4. Agar penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien abortus iminens dengan mengaplikasikan teori model konseptual keperawatan menurut Gordon.
5. Agar penulis mampu menetapkan rencana keperawatan pada pasien dengan abortus iminens dengan mengaplikasikan teori model konseptual keperawatan menurut Gordon.
6. Agar penulis mampu mengimplementasikan intervensi keperawatan menurut Gordon.
7. Agar penulis mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada pasien abortus iminens dengan mengaplikasikan teori model konseptual menurut Gordon.
C. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana asuhan keperawatan Ny. G dengan abortus iminens diruang Budi Rahayu RSU Tidar Magelang pada tanggal 7 Mei 2006 dengan mengaplikasikan teori model konseptual keperawatan menurut Gordon.
D. RUANG LINGKUP
Dari sekian kasus yang ada dengan abortus iminens yang dirawat diruang BR. RSU Tidar Magelang. Maka penulis membatasi masalah dengan mengambil satu kasus abortus iminens pada Ny.G yang dilakukan pada tanggal 7 Mei 2006 – 10 Mei 2006.
E. MANFAAT PENULISAN
1. Bagi penulis
a. Menambah pengetahuan tentang abortus iminens dalam memberikan asuhan keperawatan
b. Dapat memperoleh pengalaman yang nyata dan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada pasian abortus iminens yang sesuai kewenangan. Kompentensi dan standart pelayanan keperawatan
c. Penulis dapat membandingkan antara teori dan praktek tentang abortus iminens
2. Bagi lahan
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada umumnya dan meningkatkan mutu pelayanan pada penderita dengan abortus iminens pada khususnya
3. Bagi Institusi
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan dibidang pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang akan datang.
b. Dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan pengetahuan mahasiswanya sejauhnya dalam menetapkan asuhan keperawatan pada penderita dengan abortus iminens.
c. Bagi masyarakat
Dapat meningkatkan pengetahuan pada masyarakat tentang abortus iminens sehingga masyarakat mengerti dan mampu mendeteksi diri tanda dan gejala awal abortus iminens.
Metode Peroleh Data
Didalam menyusun karya tulis ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi suatu keadaan secara obyektif, metode ini digunakan untuk memecahkan dan menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Metode ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/analisa data, membuat kesimpulan dan laporan.
(Notoatmodjo, 2005 : 138)
Adapun bentuk pengolahan data :
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang di pergunakan untuk mengumpulkan data, dimana penulis mendapatkan keterangan atau pendirian secara benar dari seseorang sasaran (responden) atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut.
(Notoatmodjo, 2005 : 102)
2. Pengamatan (observasi)
Pengamatan adalah suatu hasil pembuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan suatu prosedur berencana yang antara lain melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang dibelenggu
(Notoatmodjo, 2005 : 93)
Pengamatan meliputi :
a. Beberapa Pemeriksaan Fisik
Yaitu pemeriksaan data tertentu untuk menunjukkan lebih tepatnya observasi yang dilakukan selain dengan panca indera juga memakai instrumen atau pengatur yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi untuk mendapatkan data obyektif.
b. Studi Dokumentasi
Yaitu melihat catatan-catatan medis dari dokter dan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai data penunjang.
c. Daftar Pustaka
Semua literatur atau bacaan yang digunakan untuk mendukung dalam menyusun laporan tersebut
(Notoatmodjo, 2005 : 50)
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan dalam karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari : latar belakang masalah, tujuan penulisan, rumusan masalah, ruang lingkup masalah, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.
BAB II : Konsep dasar terdiri dari konsep medis yang berisi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis pemeriksaan penunjang, komplikasi dan penatalaksanaan. Adapun konsep medis yang terdiri dari pengakajian data dasar klinikal pathway dan fokus intervensi
BAB III : Tinjauan kasus yang berisi tentang pengkajian antara data, diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas, rencana interfensi, evaluasi, implentasi, evaluasi perkembangan.
BAB IV : Pembahasan yang berisi tentang pembahasan yang mampu memberikan solusi dengan alasan-alasan yang dapat di pertanggungjawabkan (acaountility dan berorientasi pada problem solving (pemecahan masalah)) dengan argumentasi ilmiah logis terhadap permasalahan yang timbul pada kenyataan lapangangan dengan pandangan secara teoritis.
BAB V : penutup berisi kesimpilan dan saran-saran yag lebih menekankan pada usulan yang sifatnya lebih operasional/aplikatif
Daftar Pustaka dan Lampiran.
BAB II
KONSEP DASAR
A. DEFENISI
ABORTUS adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu.
(Manuaba, 1998 : 214)
ABORTUS adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
(Eastman, 2005 : 209)
ABORTUS adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan sampai saat ini janin yang terkecil yang dilaporkan yang dapat hidup diluar kandungan mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu.
(Wiknjosastro, 2005 : 302)
ABORTUS adalah istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas janin yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139 hari) dihitung di hari pertama haid terakhir normal yangdapat dipakai.
(Taber, 1994 :56)
ABORTUS dapat di bagi menjadi :
A. Berdasarkan terjadinya :
1. Keguguran spontan
Terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri.
2. Keguguran buatan
Sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri, upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan :
a. Indikasi Medis
Menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu untuk dapat menyelamatkan jiwanya. Indikasi medis tersebut diantaranya :
- penyakit jantung, ginjal atau hati yang berat
- gangguan jiwa ibu
- dijumpai kelainan bawaan berat dengan pemeriksaan ultrasonogrfi
- gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
b. Indikasi Sosial
Pengguguran kandungan dilakukan atas dasar aspek sosial
- menginginkan jenis kelain tertentu
- Tidak ingin punya anak
- Belum siap untuk hamil
- Kehamilan yang tidak diinginkan
B. Berdasarkan Pelaksanaannya
Berdasarkan pelaku gugur kandung dapat dibagi atau dikelompokkan
1. Keguguran buatan teraupetik
Dilakukan tenaga medis secara legaltis berdasarkan indikasi medis
2. Keguguran buatan ilegal
Dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum
C. Berdasarkan gambaran klinisnya gugur kandung dibagi menjadi :
1. Keguguran lengkap (abortus kompletus)
Semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya
2. Keguguran tidak lengkap (abortus inkompletus)
Sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyakit
3. Keguguran mengancam (abortus iminens)
4. Keguguran tak terhalangi
5. Keguguran habitualis
6. Keguguran dengan infeksi (abortus infeksiolus)
7. Missed abortion
(Manuaba, 1998 : 214)
D. Menurut gambaran klinik abortus dapat dibedakan antara lain :
1. Abortus iminens
Peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan 20 minggu menghasilkan konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi seniks
2. Abortus Insipiens
Peristiwa pendarahaan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih didalam uterus
3. Abortus Inkompletus
Penguluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus
4. Abortus Kompletus
Semua hasil konsepsi dikeluarkan dari uterus pada penderita ditemukan pendarahaan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah banyak mengecil
5. Abortus Servikalis
Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka sehingga semuanya berkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar kurang lebih bundar dengan dinding menipis
6. Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih
7. Abortus habitualis
Abortus spontan yang terjadi 2 kali atau lebih berturut-turut
8. Abortus Infeksialis
Abortus yang disertai infeksi pada genetalia
9. Abortus septik
Abortus infeksiolus berat disetai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritonium
(Wiknjosastro, 2005 : 305)
E. ETIOLOGI
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudiqah.sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan kelainan abortus dapat dibagi sebagai berikut :
A. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat, kelinan berat biasanya menyebabkan kematian muduqah pada hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut :
a. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliplaidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
b. Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endotrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu
c. Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagian dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi atau lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh itu pada umumnya dinamakan pengaruh teratogen
B. Kelainan pada plasenta
Endoteritis dapat menjadi dalam vilikorialis dan menyebabkan .plasenta tertanggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun
C. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis pielonifritis, malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus, toksin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin. Sehingga menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus
D. Kelainan traktes genetalis
Retroversio uteri, miomata uteri atau kelainan bawaan dapat menyebabkan abortus tetapi harus diangat bahwa hanya retroversio uteri inkarserata atau uterus mioma submukosa yang memegang peranan penting sebab lain abortus dalam trimester ke 2 ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks. Dilaktasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks luas yang tidak dijahit
(Wiknjosastro, 2005 : 203)
F. MANIFESTASI KLINIK
• Terdapat keterlambatan datang bulan
• Terdapat pendarahan disertai perut sakit (mulas)
• Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur hamil dan terjadi kontraksi otot rahim
• Hasil pemeriksaan dalam terdapat pendarahan dari kanalis servikalis masih tertutup dapat dirasakan kontraksi ototr rahim
• Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif
(Manuaba, 1998 :128)
G. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya keguguran dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan pendarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas dianggap benda asing sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan, seluruh atau bagian masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut. Karena kontraksi rahim terjadi pendarahan dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
Bentuk pendarahan bervariasi diantaranya :sedikit dan berlangsung lama sekaligus dalam jumlah yang besar disertai dengan gumpalan. akibat pendarahan tidak menimbulkan gangguan apapun, tetapi menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, dampak anemeis dan daerah ujung (akral) dingin.
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi. Umur hamil dibawah 14 minggu dimana plasenta belum dibentuk sempurna dikeluarkan atau sebagian hasil konsepsi. Diatas 16 minggu dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi dan dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta. Berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaterus. Hasil konsepsi tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembentukan darah. Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi :
- Mola karnosa : hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging
- Mola heberose : amnion berbenjol-benjol karena terjadi hemotoma antar amnion dan korion
- Fetus kompresus : janin mengalami mummifikasi, terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng
- Fetus papireseus : kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan laksana kertas
- Blighted ovum : hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin hanya benda kecil yang tidak berbentuk
- Missed akortion : hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu
(Manuaba, 1998 :216)
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes kehamilan positif bila janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibronogen darah pada missed abortion
I. KOMPLIKASI ABORTUS
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah pendarahan perforasi, infeksi dan syok
1. Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena pendarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati-amati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi. Penjaitan luka perforasi atau perlu histerektomi perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas mungkin mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi
3. Infeksi
Biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemorogik) dan karena infeksi perut (syok endoseptik)
(Wiknjosastro, 2005 : 313)
J. PENATALAKSAAN
Pada pasien abortus imenens dilaksanakan dengan
a. Istirahat total di tempat tidur
- Meningkatkan aliran darah ke rahim
- Mengurangi rangsangan mekanis
b. Obat-obatan yang diberikan
- Penenang penobarbital 3x30 mgram, valium
- Anti pendarahan : Adona, Transamin
- Vitamin B komplek
- Hormonal : Progesteron
- Penguat plasenta : Gestanom, Dhupaston
- Anti kontraksi rahim : Duvadilan, Papaverin
c. Evaluasi
- Pendarahan jumlah dan lamanya
- Tes kehamilan dapat diulangi
- Konsultasi pada dokter ahli atau penanganan lebih lanjut dan pemeriksaan ultrasonografi
(Manuaba, 1998 : 218)
BAB III
TINJAUAN KASUS
I. PENGKAJIAN
Pengkajian ini dilakukan pada hari Senin tanggal 7 Mei 2006 jam 08.00 WIB di Ruang VK yang berlanjut di Ruang BR RSU TIDAR Magelang secara autoanamnesa dan autoanamnesia
A. IDENTITAS IBU
a. Pasien
Nama : Ny. G
Umur : 28 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : Jln. Nuklir A3 RT.1/RW.10 Joyonegoro
b. Identitas Penanggungjawab
Nama : Tn. J
Umur : 32 tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Jln. Nuklir A3 RT.1/RW.10 Joyonegoro
B. RIWAYAT PERAWATAN ANTENATAL
1. G1, Po, Ao
2. Riwayat penggunaan kontrasepsi
- Jenis : -
- Kapan : -
- Tanggal terakhir pemakaian : -
- Keluhan : -
3. Riwayat Menstruasi
- Awal menstruasi : 13 tahun
- Siklus : 7 hari
- Keluhan : pasien disminore setiap haid
- Menstruasi terakhir : 5 Februari 2006
4. Riwayat Kehamilan
- Minggu ke : 13 lebih 5 hari
- Tes kehamilan : menggunakan alat tes sensitif hasil positif
- Urine : warna kuning pekat, bau khas
- Darah : kadang-kadang keluar dari vagina kira-kira 100cc
- Keluhan / masalah : pasien mengatakan badan terasa lemas
- Pemakaian obat-obatan
- Adakah kebiasaan :
- Merokok : tidak
- Minum alkohol : tidak
5. Riwayat kehamilan dulu
Pasien pertama kalinya hamil
6. Riwayat kesehatan yang lalu
Pasien sebelumnya tidak pernah mengalami masalah seperti ini, karena ini adalah kehamilan yang pertama. Tetapi pasien hanya mengalami disminore saat haid
7. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat abortus seperti yang dialami pasien dan tidak ada yang mempunyai penyakit menurun dan menular dan tidak ada riwayat gemeli, kelainan dalam persalinan
8. Pengkajian pada fungsional menurut Gordon
a. Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Pasien mengatakan kesehatn itu sangat penting dalam menjaga kesehatannya dan bila sakit pasien memeriksakan ke pelayanan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolis
Sebelum sakit : pasien makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk-pauk dan terkadang buah-buahan. Dan minum air putih 7-8 gelas/hari terkadang minum susu.
Selama sakit : pasien tidak ada pantangan makan. Pasien makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk-pauk dan buah. Pasien habis ½ porsi. Pasien minum habis 4 gelas/hari
c. Eliminasi
Sebelum sakit : pasien BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lembek, bau khas, warna kuning, tidak ada lendir maupun darah. Pasien BAK 5 kali sehari dengan warna kuning pekat, bau khas.
Selama sakit : pasien BAB 1 kali dalam 2 hari dengan konsistensi lembek, bau khas, warna kuning, tidak ada lendir maupun darah. Pasien BAK 6 kali sehari, dengan warna kuning, bau khas
d. Pola aktifitas dan latihan
Sebelum sakit : pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari seperti memasak, mencuci, mengambil air dikerjakan sendiri dan pasien sering lelah
Setelah sakit : pasien beristirhat total, aktifitas dibantu keluarga, semua aktifitas dilakukan ditempat tidur secara umum pasien dapat beristirahat walaupun saat nyeri datang pasien tidak dapat tidur
e. Pola persepsi dan kognitif
Selama kehamilan pasien memeriksakan kehamilannya ke bidan 1 bulan sekali. Pasien belum paham benar dengan kehamilannya karena ini merupakan kehamilan pertama
f. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit : pasien tidur 7-8 jam tidur siang 2-3 jam tanpa gangguan lain
Selama sakit : pasien tidur 5 jam tapi sering terbangun karena rasa nyeri yang sering datang pada saat tidur
g. Pola persepsi dan konsepsi diri
Gambaran diri : pasien tampak merasa sedih dan lemas, penampilan kusut
Ideal diri : pasien aka menjadi ibu dari anak yang dikandungnya
Peran diri : pasien seorang ibu rumah tangga dan sebentar lagi mempunyai tanggung jawab menjadi seorang ibu
Harga diri : pasien senang dengan bayi yang dikandungnya
Identitas diri : pasien berkonsentrasi penuh dengan kandungannya
h. Pola peran dan hubungan
Pasien berperan sebagi seorang istri dan ibu rumah tangga. Hubungan pasien dengan para tetangga sangat baik.
i. Pola seksual dan reproduksi
Pasien menikah pada umur 25 tahun. Lama pernikahan 2 tahun dan sekarang pasien sedang hamil
j. Pola koping dan toleransi dengan stress
Pasien setiap ada masalah selalu mendiskusikan dengan keluarga dan pasien senang dengan kehamilannya tetapi pasien merasa cemas karena merupakan kehamilan pertama.
k. Pola nilai dan kepercayaan
Pasien beragama Islam. Sebelum sakit pasien selalu mengerjakan solat 5 waktu tetapi selam sakit pasien hanya mampu berdoa untuk kesembuhannya
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
a. Penampilan : lemah
b. Kesadaran : composmetis
2. Tanda-tanda vital
a. Tekanan darah : 110/80 mmHg
b. Respiratorerate : 20 /menit
c. Nadi : 60 / menit
d. Suhu : 37 C
3. Tinggi tubuh : 153 cm
Berat tubuh : 48 kg
4. Kepala
a. Bentuk kepala : Mesoshefal
b. Rambut : Rambut hitam panjang, tak mudah rontok, tak ada ketombe, tak ada lezi
c. Mata : Pasien tidak menggunakan bantu penglihatan, konjugtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
d. Hidung : tidak ada pembesaran polip dan tidak ada pendarahan, bentuk simetris
e. Telinga : bentuk simetris, tidak ada penumpukan serumen, tidak menggunakan alat bantu pendengaran
f. Mulut : tidak ada pendarahan gusi, mukosa bibir lembab
5. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar teroid
6. Dada
Paru-paru
- I : Simetris, tidak ada retraksi interkosta
- Pe : sonor
- Pa : Tidak ada nyeri tekan
- A : visikuler
Jantung
- I : Ictus Codis tak tampak
- Pe : pekak
- Pa : Ictus codis tidak teraba
- A : reguler
7. Abdomen
- I : Perut tampak membuncit sesuai kehamilan, tidak ada bekas operasi terdapat linia nigra
- A : Peristaltik usus 18 /menit
- Pe : Timpani
- Pa : Tak ada nyeri tekan, TFU 2 jari diatas simfisis
8. Genetalia : Kotor, terpasang pembalut, tak terpasang kateter
9. Anus : Tidak ada hemoroid
10. Ekstremitas
11. Superior : gerak terbatas, terpasang infus RL 20 kali per menit tidak ada oedem
Interior : gerak terbatas, tidak ada oedem
12. Kulit : warna kulit sawo matang, turgo kulit baik
D. DATA PENUNJANG
1. USG tanggal 7 Mei 2006 jam 20.00 WIB
Hasil :
- Janin tunggal, hidup, intra uteri
- Janin umur 13 minggu
Data laboratorium : 8 Mei 2006
- LHBC : 10,6 x 10 % /dl - MXD : 6,4 %
- RBC : 3,65 x 10 % /dl - NEUT : 67,9
- HGB : 10,8 g/dl - LXM : 2,7 x 103
- MCT : 32,5 % - NEUT :7,2 x 103
- MCV : 8 gr - RDW : 45,4 Fl
- MCH : 33,29 / dl - MPV : 9,8 Fl
- PLT : 195 x 103 - P-LCd : 25,4 %
- LXM : 25,7% - Albumen : 2,2 g/dl
2. Terapi tanggal 7 Mei 2006
- infus RL 20 tetes/menit
3. Terapi oral
- Mivedipin tablet 3 x 1 per oral
- Papaverin 3 x 1 per oral
- Amoxilin tablet 3 x 1 per oral
- Injeksi viliron 1 ampul
4. Terapi tgl 8 Mei 2006
- Asam mefenanet 3 x 1 per oral
- Duvadilan tablet 3 x 1 per oral
II. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian Data Dasar
Pengkajian perawatanmeliputi data tentang physiologic. Physiologi dan status sosial ekonomi. Perawatan seringkali membuat keputusan pada langkah pertama dan mempertimbangkan alternatif dan pilihan yang tepat.
1. Riwayat Obstetri
Tentang sejarah wanita dalam penggunaan kontrasepsi pertahun khususnya difokuskan pada menstruasi dan penggunaan obat-obatan
2. Riwayat Keluarga
Tentang kondisi pembedahan dalam penggunaan kontrasepsi di riwayat aborsi
3. Riwayat Psycologi
Dimana perawat mengkaji wanita dan pasangan untuk menggungkapkan proses terdeteksi hamil untuk meminimalkan resiko terjadinya komplikasi sehingga perawat memfokuskan pada pemecahan masalah. Dan intervensi untuk membantu pasien dan pemecahan masalah perlu perencanaan waktu lebih awal dantepat dalam proses membuat keputusan. Wanita menginginkan partner atau orang lain dalam pembuatan keputusan tersebut dan ini sangat penting khususnya tanda dari permasalahan sebagian masyrakat.
4. Riwayat Fisiologi
Sistem kekuatan dari ibu untuk mengungkapakan perasaannya. Karena arti ini sangat komplek dan mempunyai penilaian tentang reproduksi. Kehamilan dapat terjadi kecelakaan yang komplek dan dapat digunakan untuk mempengaruhi hubungan dengan orang yang penting dalam kehidupan
5. Seksualitas
Aktifitas seksual dan kapasitas reproduksi
(Reede, 1997 : 305)
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan pola fungsional Gordoon kerana pada pola tersebut terbentuk dari hubungan antara pasien dan lingkungan dan dapat digunakan untuk perseorangan atau komunikasi. Pola-pola tersebut meliputi :
1. Persepsi kesehatan pada manjemen kesehatan mengabarkan pola pemahaman dan bagaimana kesehatan meraka diatur.
2. Pola metabolik-nutrisi, menggambarkan konsumsi relatif terhadap kebutuhab metabolik dan suplai gizi, meliputi pola konsumsi makanan dan cairan keadaan kulit rambuty, kuku dan membran mukosa, suhu tubuh tinggi dan berta badan.
3. Pola eleminasi, menggambarkan pola fungsi eksresi (usus besar, kandung kemih dan kulit) termasuk pola individu sehari-hari. Perubahan atau gangguan dan metode yang di gunakan untuk mengendalikan eksresi.
4. Pola aktifitas olah raga, menggambarkan aktifitas mengisi waktu senggang dan rekreasi, termasuk aktifitas kehidupan sehari-hari. Tipe dan kualitas olahraga dan faktor-faktor yang mempengaruhi pola aktifitas seperti otot, syaraf, respirasi dan sirkulasi.
5. Pola tidur istirahat, menggambarkan dan relaksasi setiap bantuan untuk merubah pola tersebut
6. Pola persepsi kognitif, menggambarkan pola persepsi sonsorik dan kognitif. Meliputi kekuatan bentuk sensor (penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penghirupan). Pelaporan mengenai persepsi sensori dan kemampuan fungsi kognitif.
7. Pola persepsi diri – konsep diri, menggambarkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri kemampuan mereka, gambaran diri dan perasaan.
8. Pola hubungan peran, menggambarkan pola keterikatan peran dengan hubungan meliputi, persepsi terhadap peran utama dan tanggung jawab dalam sehari kehidupan saat ini
9. Pola reproduksi seksualitas, menggambarkan kepuasan atau ketidakpuasan dalam seksualitas termasuk satatus reproduksi wanita
10. Pola koping-toleransi- stress, menggambarkan pola koping umum dan kefektifitasan ketrampilan koping dalam metode rasa stress
11. Pola nilai kepercayaan , meggambarkan pola nilai ajaran atau kepercayaan (termasuk kepercayaan spiritual) yang menggambarkan pilihan dan keputusan gaya hidup
(Potter, 1996 : 10)
B. Pengkajian Fisik
1. Riwayat menstruasi dan periode terakhir menstruasi menggunakan kontrasepsi.
2. Membantu pemeriksaan fisik, mengumpulkan data spesimen tes kehamilan untuk menentukan lamanya hamil secara fisiologi dan metode kontrasepsi untuk mengetahui mengenai alternatif abortus.
3. Kehamilan dan riwayat kesehatan untuk mengidentifikasi khususnya kebutuhan dan resiko.
4. Keadaan di sekeliling yang tidak diperlukan dalam konsepsi
5. Tingkatan dari pertentangan tentang abortus
6. Hubungan keterlibatan dalam keluarga orang tua dan memberi dukungan
7. Krisis dari presentasi yang lebih lanjut yang membutuhkan psikologi konseling
(Reeder, 1997 :308)
III. Fokus Intervensi
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesesuian pilihan prosedur normalnya emosi perwatan diri
Intervensi :
- Menasehati panjang waktu selama hamil
- Memberikan indikasi dari kehamilan
- Mendiskusikan tipe dari prosedur abortus
- Memberitahu komplikasi dari kehamilan
- Memberitahu resiko dari kehamilan
2. Pengeluaran pendarahan berhubungan dengan tanda dan gejala dari komplikasi resumsi aktifitas sosial, kontrasepsi, seksual, sumber komunitas perawatan saat pemeriksaan
Intervensi
- Memberi nasehat komplikasi
- Memberi penjelasan tentang pencegahan dari abortus
- Menjelaskan rangkaian untuk mengurangi aktifitas seksualitas
- Memberi penjelasan perawatan pada saat pemeriksaan
3. Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan prosedur abortus
Intervensi
- Memberi nasehat komplikasi setelah abortus
- Mengakaji pilihan alternatif dari abortus
- Membantu meminimalkan trauma jaringan pada resiko infeksi
- Menjaga klien dan memberi dukungan dan klasifikasikan selama prosedur abortus
4. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
Intervensi
- Membantu memperkecil trauma jaringan dan resiko infeksi
- Memberi perawatan selama kehamilan
- Memberi pencegahan tidak terjadi abortus
5. Koping individu tidak efektif terhadap depresi berhubungan dengan respon emosional
Intervensi
- Anjurkan konseling psikologi jika diindikasikan
- Mendiskusikan kunjungan kontrasepsi lanjut dan reaksi emosional
- Memberi dukungan atau motivasi kepada klien
- Menyediakan kesempatan untuk respon ekspresi emosional konflik
6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehamilan
Intervensi
- Memberi dukungan atau motivasi kepada klien
- Menganjurkan pasien untuk penyerahan psikologi
- Memberi pemecahan konflik permasalahan
- Memberi perwujudan stress dan menaikkan resolusi
7. Gangguan proses keluarga berhuhubungan dengan efek abortus yang adad hubungan (ketidak adanya persetujuan, status kawin, dan konflik pribadi) masalah identitas orang dewasa.
Intervensi
- Anjurkan konseling psikologi seksual jika diindikasikan
- Memberi motivasi pada pasien
(Reeder, 1997 : 308)
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada BAB IV ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan pada nyonya G dengan abortus imminens di ruang BR RSU. Tidar Magelang. Disini penulis akan menguraikan tentang bagaimana masalah keperawatan tersebut. Dan apa akibat yang terjadi bila masalah tersebut tidak teratasi. Dan rasional tindakan yang dilakukan dan bagaimana hasil evaluasi yang dicapai setalah implementasi. Disini penulis akan membahas kesenjangan antara teori dan lapangan. Adapun diagnosa yang muncul pada abortus menurut (Reeder , 1997 :308) yaitu
a. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kesesuaian pilihan prosedur normalnya emosi perawatan diri
b. Pengeluaran pendarahan berhubungan dengan tanda dan gejala dari komplikasi resumsi dari aktifitas seksual kontrasepsi, seksualitas, sumber komunitas perawatan pada saat pemeriksaan
c. Gagngguan nyaman nyeri berhubungan dengan prosedur abortus
d. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
e. Koping individu tidak efektif terhadap depresi berhubungan dengan respon emosional
f. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehamilan
g. Gangguan proses keluarga berhubungan dengan proses abortus yang ada hubungannya (tidak adanya persetujuan status kawin dan konflik pribadi). Masalah identitas orang dewasa.
Disini penulis menemukan diagnosa yang muncul pada Ny.G yaitu :
a. Intoleran aktifitas berhubungan denganpencegahan abortus lebih lanjut
b. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada kematian janin.
c. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan pencegahan abortus lebih lanjut.
Yang dimaksud intoleransi aktifitas adalah penurunan dalam kapasitas fisiologis seseorang untuk melakukan aktiftas sampai tingkat yang diinginkan atau yang di butuhkan (Carpenito, 2000 : 2). Intoleransi aktifitas ini muncul dari data mayor selama aktifitas, kelemahan, pusing, dispniea, 3 menit setelah aktifitas pusing, depsniea keletihan akibat aktifitas, frekuensi pernafasan lebih dari 24 dan frekuensi nadi lebih dari 25. Dan dari data minor : pucat atau sianosis, kontusi dan vertigo ( Carpenito, 2000 : 2).
Penulis memprioritaskan masalah ini pertama sesuai dengan kebutuhan fisiologis menurut Abraham Maslow (Effendy, 1998 : 3).Dengan hasil yang diharapkan pasien melaporkan peningkatan intoleran aktifitas (termasuk aktifitas sehari-hari)dengan kriteria waktu 2 x 24 jam.
Adapun rencana yang dibuat adalah ukur tanda vital pasien rasionalisasinya untuk menujukan kecenderungan menentukan respon pasien terhadap aktifitas. Anjurkan pasien untuk mengikuti aktifitas dengan istirahat yang cukup rasionalisasinya untuk menghemat energi dan menghindari pengerahan tenaga terus menerus (Dongoes, 2001 : 123). Anjurkan keluarga membantu aktifitas pasien rasionalnya hal ini untuk mencegah terjadinya kelemahan. Anjurkan pasien istirahat dan penggunaan posisi miring kiri rasionalnya untuk menurunkn iritabilitas uterus (Dongoes,2001:126)Anjurkan nuntuk bedrest total rasionalnya untuk mengurangi aktifitas dan stress sehingga dapat membantu menurunkan ketegangan mengurangi kontraksi uterus.
Evaluasi yang didapatkan jam 11.00 pada hari ke 2 tanggal 8 Mei 2006 yaitu pasien sudah tidak cemas lagi ,darah sudah tidak keluar, masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Faktor pendukung dalam implementasi yang dilakukan penulis yaitu pasien mengikuti tindakan yang dilakukan oleh penulis sedangkan faktor penghambatnya pasien lebih aktif dalam melakukan aktifitas dan kadang tidak memikirkan akibatnya.
2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada kematian janin.
Yang dimaksud ansietas adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktifitas sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas non spesifik (Carpenito, 2000 : 9) ini bisa dibuktikan dengan peningkatan tegangan ketakutan. Perasaan tidak adekuat, keluhan-keluhan somatik (Doengoes,2006:121)
Data mayor dimanifestasikan oleh gejala-gejala dari katagori fisiologis emosional dan kognitif.gejala-gejala bervariasi sesuai dengan tingkat ansietas. Fisiologi sendiri meliputi peningkatan frekuensi jantung, peningkatan tekanan darah peningkatan frekuensi pernapasan, diaforesis, insomnia keletihan dan kelemahan mulut kering, gelisah, gemetar, bedebar-debar sering berkemih, diare, emosional meliputi ketakutan ketidak berdayaan gugup dan kurang percaya diri sedangkan kognitif tidak dapat konsentrasi kurang kesadarn tentang sekitar.(Carpenito, 2000 : 9).
Masalah keperawatan ini diprioritaskan kedua sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan keamanan dan keselamatan (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu 2 x 24 jam dengan hasil yang diharapkan pasien tidak cemas.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk berfungsi membuat keputusan rasionalnya stres yang tidak diatasi dengan mempengaruhi tugas tugas kehamilan, anjurkan pasien untuk menghindari mengakat berat rasionalnya aktifitasnya yang ditoleran sebelumnya mungkin tidak dapat di indikasikan untuk untuk wanita berisiko,anjurkan pasien untuk memodifikasi atau menghilangkan segala jenis aktifitas seksual rasionalnya karena aktifitas seksual termasuk orgasme dan stimulasi payudara.mampu meningkatan kepekaan uterus karena pelepasan oksitosin.tekankan pentingnya aktifitas hiburan yang tenag rasionalnya mencegah kebosanan dan meningkatkan kerja sama dengan pembatasan aktifitas ,anjurkan pasien untuk tirah baring rasionalnya aktifitas mungkin perlu modifikasi tergantung pada gejala-gejala aktifitas uterus perubahan serviks, kolaborasi tim medis.(Doengoes, 2000 : 121)
Evaluasi yang didapatkan pada tanggal 8 Mei 2006 pada hari ke 2 yaitu pasien mengatakan sudah bisa beraktifitas dan aktifitas pasien bisa dilakukan sendiri. TD 120/80 mmHg. Masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Faktor pendukung pada implementasi yang dilakukan penulis yaitu pasien mengikuti tindakan yang dilakukan oleh penulis sedangkan faktor penghambatnya pasien lebih aktif dan mengerti dengan cara dipraktekan daripada dengan bahasa
Pembenaran :
Penulis mendapatkan data tentang pasien yang dibantu oleh keluarga dan perawat, misalnya mandi dibantu oleh perawat dan keluarga.
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan
Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami difisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi rencana pengobatan (Carpenito, 2000 : 223) karena kurangnya pemajaan pada dan atau kesalahan interprestasi tentang informasi tidak mengenal resiko individu atau peran sendiri pada pencegahan atau pelaksanaan resiko.(Dongoes, 2000 : 431)
Data mayor yang mendukung mengungkapkan pengetahuan atau penampilan dan permintaan informasi mengekspresikan suatu ketidak akuratan persepsi status kesehatan,melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan dan data minor ditemukan kurang integrasi tentang rencana pengobatan kedalam aktifitas sehari-hari,memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (misalnya ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi.
Masalah keperawatan yang dilakukan ini diprioritaskan terakhir sesuai Abraham Maslow yaitu kebutuhan dasar aktualisasi diri (Effendy, 1998 : 4) dengan waktu yang diperlukan 20 menit dengan hasil yang diharapkan pasien dapat mengerti tentang kehamilanya.
Adapun rencana tindakan yang dilakukan oleh penulis antara lain:kaji pengetahuan pasien rasionalnya untuk mengetahui tingkat pendidikanya .beri informasi tentang kehamilanya rasionalnya meningkatkan pemahaman akan dampak kehamilan pada proses penyakit, (Dongoes, 2001 : 119). Bantu pasien untuk mengidentifikasi teknik perawatan diri untuk individu rasioanalnya meningkatkan kepercayaan diri dalam perawatan diri (Dongoes,2001:119).anjurkan pasien untuk meporkan tentang perubahan kehamilan rasionalnya dapat mewujudkan perubahan kehamilanya yang dapat mencetuskan abortus. (Dongoes, 2001 : 120)
Hasil yang diperoleh pada jam 11.00 pada tanggal 9 Mei 2006 adalah pasien sudah memahami tentang kehamilanya,dan masalah teratasi dan pertahankan intervensi.
Dalam melakukan implementasi penulis mempunyai faktor pendukung dan penghambatnya.faktor pendukung:pasien kooperatif dalam tindakan yang dilakukan penulis dan penghambatnya :pasien tidak begitu mengerti jika penyuluhan lebih baik diberi contoh secara langsung
BAB V
PENUTUP
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada Ny.G dengan abortus imminens diruang BR RSU. Tidar Magelang. Penulis akan memberikan kesimpulan dan saran.
A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan yang dilakukan pada Ny. G dengan abortus imminens di ruang BR RSU Tidar Magelang, penulis menggunakan pola pengkajian menurut Gordon dimana pola tersebut dari hubungan antara pasien dan lingkungan dan dapat digunakan untuk perseorangan atau komunikasi (Patricia dan Potter, 1996 :10). Penulis menggunakan pola Gordon karena pola ini sesuai dengan pasien yang penulis dengan tujuan memandikan pasien
Diagnosa keperawatan yang ditemukan oleh penulis pada NY.G yaitu intoleran aktivitas berhubungan dengan pencegahan abortus lebih lanjut. Ansietas b/d krisis situasi ancaman pada kematian janin dan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan dari diagnosa keperawatan. Yang penulis temukan pada Ny.G dilakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut dan setelah dilakukan tindakan keperawatan. Semua masalah keperawatan yang diambil oleh penulis pada NY. G dapat teratasi
B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Dalam melakukan tindakan perlu diperhatikan kesetirilan dalam melakukan setiap prosedur tindakan dalam keperawatan.
2. Bagi Pasien dan Keluarga
Diharapkan mampu melakukan perawatan di rumah secara mendiri dengan menggunakn prosedur yang telah digunakan perawat
.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.
Chalik, TMA (1997), Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi, Widya Medika, Jakarta
Doengoes, E. Marylin (2001), Rencana Perawatan Maternal Bayi, EGC, Jakarta.
Effendi, Nasrul, (2000), Proses Keperawatan, EGC, Jakarta.
Manuaba, Ida Bagus Gde (1998), Pengkajian Kesehatan, EGC, Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo (2002), Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Aneka Cipta, Jakarta
Potter, Patricia. A, (1996), Pengkajian Keperawatan, EGC, Jakarta.
Reeder, Sharonj (1997), Maternity Nursing, for Library of Congress, Philadelpia
Sastrowinata, Sulaiamn (2004), OBSTETRI PATOLOGI, EGC, Jakarta.
Surjadi, Charles (2000), Kesehatan Reproduksi jaringan epidemilogi nasioanal, Jakarta
Taher, Ben-Zion (1994), Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, EGC, Jakarta
Winjosastro, Hanifa (2005), Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Aneka Cipta, Jakarta
asuhan keperawatan fibroadenoma mammae
ASUHAN KEPERAWATAN FIBROADENOMA MAMMAE
A. PENGERTIAN
1. Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang meliputi kelenjar dan stroma jaringan ikat.
2. Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang bersimpai jelas, berbatas jelas, soliter, berbentuk benjolan yang dapat digerakkan.
PENYEBAB GANGGUAN
1. Peningkatan aktivitas Estrogen yang absolut atau relatif.
2. Genetik : payudara
3. Faktor-faktor predisposisi :
a. Usia : < 30 tahun
b. Jenis kelamin
c. Geografi
d. Pekerjaan
e. Hereditas
f. Diet
g. Stress
h. Lesi prekanker
TANDA & GEJALA
1. Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada penampang tampak jaringan ikat berwarna putih, kenyal
2. Ada bagian yang menonjol ke permukaan
3. Ada penekanan pada jaringan sekitar
4. Ada batas yang tegas
5. Bila diameter mencapai 10 – 15 cm muncul Fibroadenoma raksasa ( Giant Fibroadenoma )
6. Memiliki kapsul dan soliter
7. Benjolan dapat digerakkan
8. Pertumbuhannya lambat
9. Mudah diangkat dengan lokal surgery
10. Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian
PATOFISIOLOGI
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada masa reproduksi yang disebabkan oelh beberapa kemungkinan yaitu akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia.
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di sekitarnya. Pada gambaran histologis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu :
1. Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis.
2. Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau menghilang.
Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit dan pada saat menopause terjadi regresi.
B. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Biopsi
2. Pembedahan
3. Hormonal
4. PET ( Positron Emision Tomografi )
5. Mammografi
6. Angiografi
7. MRI
8. CT – Scan
9. Foto Rontqen ( x – ray )
10. Blood Study
PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI
1. Faktor-faktor resiko
2. Pemerikasaan payudara sendiri
3. Pemeriksaan klinik
4. Mammografi
5. Melaporkan tanda dan gejala pada sumber/ahli untuk mendapat perawatan
RENCANA KEPERAWATAN
Nama/Initial Klien : Ny. Nof.
Ruang : IRNA A Nama Mahasiswa : Subhan
Dx. Medis : Fibroadenoma Mammae NIM : 010030170 B
NO. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan syaraf, suplay vaskularisasi atau efek samping therapy/tindakan, ditandai dengan :
DS :
- Klien mengeluhkan rasa nyeri
- Meringis karena nyeri (facial mask of pain)
- Lemah dan istirahat kurang
DO :
- Gangguan tonus otot
- Gangguan prilaku
- Respon autonomic
Nyeri berkurang/dapat teratasi dengan kriteria :
- Melaporkan rasa nyeri yang sudah teratasi (rasa nyeri berkurang)
- Dapat mongontrol ADLs seminimal mungkin.
- Dapat mendemontrasikan keterampilan relaksasi dan aktivitas diversional sesuai situasi individu. Independent :
1. Kaji riwayat nyeri seperti lokasi; frekwensi ; durasi dan intensitas (skala 1 – 10) dan upaya untuk mengurangi nyeri.
2. Beri kenyamanan dengan mengatur posisi klien dan aktivitas diversional.
3. Dorong penggunaan stress management seperti tehnik relaksasi, visualisasi, komunikasi therapeutik melalui sentuhan.
4. Evaluasi/Kontrol berkurangnya rasa nyeri. Sesuaikan pemberian medikasi sesuai kebutuhannya
Kolaborasi :
5. Kembangkan rencana management penanganan sakit dengan klien dan dokter
6. Beri analgetik sesuai indikasi dan dosis yang tepat.
1. Informasi merupakan data dasar untuk evaluasi atau efektifitas intervensi yang dilakukan. Pengalaman nyeri setiap individu bervariasi karena mengganggu fisik dan psikologi.
2. Menolong dan meningkatkan relaksasi dan refokus
3. Melibatkan dan memberikan partisipasi aktif untuk meningkatkan kontrol
4. Tujuan umum/maksimal mengomtrol tingkat nyeri dan minimum ada keterlibatan dalam ADLs.
5. Rencana terorganisasi dan meningkatkan kesempatan dalam mengontrol rasa sakit. Klien harus berpartisipasi aktif dalam perawatan di rumah.
6. Nyeri merupakan dampak/komplikasi suatu tindakan atau keadaan penyakit serta perbedaan respon individu. 7 Mei 1998
1. Mengkaji riwayat nyeri. Menjelaskan pada pasien dampak nyeri dan pengaruh yang ditimbulkan akibat nyeri
Skala nyeri : 6 – 8
Ajarkan klien tehnik relaksasi.
2. Melakukan alih posisi dan menghindarkan penekanan pada daerah post op
Anjurkan klien tentang aktivitas diversional
3. Mengadakan tehnik komunikasi terapeutik dan melibatkan klien dalam pengelolaan pengaturan pengurangan rasa nyeri.
Memberi arahan pada klien tentang pengurangan rasa nyeri.
4. Support klien dalam pengurangan nyeri dengan cara : meditasi, latihan peningkatan relaksasi, petunjuk imagery, pengaturan latihan pernafasan.
Observasi vital signs T=110/70, N=76 x/menit, S=370C
5. Mendiskusikan hal-hal yang dapat dilakukan klien dalam penanganan nyeri khususnya bila klien sudah kembali ke rumah
6. Pemberian obat analgetik tidak dilakukan karena tidak ada order dan indikasi yang menunjang.
7 Mei 1998
S = Klien masih mengeluh adanya nyeri pada lokal incisi
Wajah klien menunjukkan rasa nyeri bila dareah lengan kiri dekat lokasi incisi digerakkan
Klien masih lemah
O = Respon Autonom +, perubahan prilaku - , Tonus otot tidak lemah
Klien melaporkan akan melakukan petunjuk yang disarankan perawat dalam penanganan nyeri
Klien mampu mengontrol dan membatasi ADLs.
A = Pengkajian tentang nyeri sangat vital baik subyektif &obyektif karena dipengaruhi pula oleh pengalaman individu dan sosial budaya individu.
Nyeri merupakan sumber yang mengakibatkan ketidakpuasan dan gangguan kebutuhan dasar manusia karena rasa nyaman terganggu
P = Lanjutkan implementasi sesuai rencana dan promote klien untuk berpartisipasi dalam penanganan nyeri.
2. Gangguan ganbaran diri (body image) berhubungan dengan tindakan pembedahan ditandai dengan :
DS :
- Verbalisasi perubahan pola hidup.
- Reaksi ketakutan dan menolak perubahan pada bagian tubuh.
- Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
- Perasaan/pandangan negatif terhadap tubuh
- Mengungkapkan keputus asaan.
- Mengungkapkan ketakutan ditolak
- Mengungkapkan kelemahan
DO :
- Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah
- Mengurangi kontak sosial
- Pre okupasi dengan bagian tubuh/fungsi tubuh yang hilang
- Menolak penjelasan perubahan tubuh
- Tidak mau turut bertanggung jawab dalam perawatan diri Gambaran diri berkembang secara positif dengan kriteria :
- Mengerti tentang perubahan pada tubuh.
- Menerima situasi yang terjadi pada dirinya.
- Mulai mengembangkan mekanisme koping pemecahan masalah.
- Menunjukkan penyesuaian terhadap perubahan.
- Dapat menerima realita.
- Hubungan interpersonal adekuat. Independent :
1. Diskusi dengan klien tentang diagnosa dan tindakan guna membantu klien agar dapat aktif kembali sesuai ADLs.
2. Review/antisipasi efek samping kaitan dengan tindakan yang dilakukan termasuk efek yang mengganggu aktivitas seksual
3. Dorong untuk melakukan diskusi dan menerima pemecahan masalah dari efek yang terjadi.
4. Beri informasi/konseling sesering mungkin.
5. Beri dorongan/support psikologis.
6. Gunakan sentuhan perasaan selama melakukan interaksi (pertahankan kontak mata)
Kolaborasi :
7. Refer klien pada kelompok program tertentu.
8. Refer pada sumber/ahli lain sesuai indikasi.
1. Menerima dam mengerti tentang hal-hal yang dilakukan merupakan awal proses penyelesaian masalah.
2. Antisipasi dini dapat menolong klien untuk mengawali proses adaptasi dalam mempersiapkan hal-hal yang dapat terjadi.
3. Dimungkinkan dapat menolong menurunkan masalah dengan keterlibatan sehingga dapat menerima tindakan yang dilakukan.
4. Validasi tentang kenyataan perasaan klien dan berikan tehnik koping sesuai kebutuhan.
5. Klien dengan gangguan neoplasma kanker membutuhkan support tambahan selama periode tersebut.
6. Penghargaan dan perhatian merupakan hal penting yang diharapkan klien guna menurunkan perasaan klien akan keraguan / ketidaknyamanan
7. Grup support biasanya sangat bermanfaat bagi klien dengan meningkatkan kontak dengan klien lain dengan masalah sama.
8. Mungkin berguna untuk mempertahankan struktur psikososial. 7 Mei 1998
1. Melakukan diskusi dengan klien tentang pengaruh dan kegunaan dari tindakan yang dilakukan serta dampak + tindakan tersebut untuk kehidupan klien.
2. Kaji ulang tentang pengaruh dari tindakan yang dilakukan.
Dorong klien untuk mengantisipasi & adaptasi ì¥Á G ¿ ¬E bjbjŽÙŽÙ „Œ ì³ ì³ ¬A ÿÿ ÿÿ ÿÿ ] 4 D D D D D ì¥Á G ¿ ¬E bjbjŽÙŽÙ „Œ ì³ ì³ ¬A ÿÿ ÿÿ ÿÿ ] 4 D D D D D asi dan mulai menerima perubahan pada dirinya (struktur & fungsi tubuh)
7 Mei 1998
S = Klien mengemukakan rasa cemas/khawatir akibat tindakan pada salah satu anggota tubuhnya.
Klien mengemukakan rasa lelah dan lemah saat operasi.
O = Klien menyadari adanya perubahan pada tubuhnya.
Klien mau menerima kondisi yang terjadi,
Hubungan interpersonal adekuat.
Tidak menolak untuk melihat dan meraba bagian yang dioperasi.
Kontak sosial adekuat.
Klien menerima dan menanggapi penjelasan tentang perubahan pada tubuh.
Klien mau terlibat dalam self care.
A = Mengkaji gangguan tentang body image penting untuk memulihkan / mengembalikan self esteem dan trust pada dirinya.
P = Lanjutkan tindakan sesuai rencana.
3. Resiko tinggi gangguan integritas jaringan/kulit berhubungan dengan efek treatment. Integritas jaringan/kulit adekuat dengan kriteria :
- Indentifikasi intervensi pada kondisi-kondisi khusus.
- Partisipasi aktif dalam tehnik guna pencegahan komplikasi / meningkatkan penyembuhan. Independent :
1. Kaji kondisi kulit dari efek samping : robekan, penyembuhan lambat.
2. Dorong klien untuk tidak menggaruk area yang terkena gangguan.
3. Sarankan klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, salep dan powder jika bukan order/ijin dari dokter atau perawatnya.
4. Atur posisi sesuai kebutuhan.
Kolaborasi :
5. Administrasi pemberian antidote sesuai indikasi.
6. Berikan therapi kompres hangat dan dingin sesuai petunjuk.
1. Efek-efek reaksi kulit dapat berupa kemerahan, gatal, kering, kelembaban berkurang, hiperpigmentasi, koloid, cikatriks.
2. Mencegah trauma / gesekan pada kulit.
3. Iritasi / reaksi pada kulit dapat meningkat.
4. Meningkatkan sirkulasi dan pencegahan tekanan pada jaringan / kulit.
5. Mengurangi kerusakan jaringan pada area / lokal.
6. Intervensi yang berbeda ini tergantung pada jenis-jenis agen yang digunakan. 7 Mei 1998
1. Memeriksa dan mengkaji daerah yang telah di incisi.
Luka operasi dalam kondisi adekuat, tidak ada tanda-tanda inflamasi.
2. Menganjurkan dan menjelaskan pada klien dampak dari garukan pada lokal pos op.
3. Menyarankan pada klien untuk tidak memakai cream, lotion, powder pada area yang dioperasi dan tidak memijat daerah tersebut.
4. Melakukan alih posisi sesuai kebutuhan klien dengan tanpa menekan pada daerah incisi.
Mengajarkan pada klien hal-hal yang penting dari alih posisi dan tehniknya.
5. Tidak dilakukan karena klien tidak menunjukkan indikasi pada penggunaan obat tersebut.
6. Menganjurkan klien untuk memberikan kompres pada daerah yang jauh dari area incisi dan menghindari area jadi basal.
7 Mei 1998
S = Klien mengemukakan tentang pengaruh pada kulit setelah operasi dan dampak laktasi karena klien G2P1 Minggu ke-19.
O : Tampak perubahan akibat incisi pada jaringan +kulit sekitar area post op.
Integritas kulit masih baik.
Tidak menunjukkan efek samping dan reaksi yang khusus pada kulit.
Palpasi : daerah yang jauh darri area incisi teraba hangat normal, tidak ada oedema.
A = Kondisi integritas jaringan / kulit akibat incisi penting dipertahankan guna menurunkan komplikasi/mencegah side efek lanjutan.
P = Lanjutkan tindakan sesuai rencana.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang penyakit, prognosis dan tindakan yang dibutuhkan berhubungan dengan informasi yang kurang, interpretasi yang keliru, ditandai dengan :
DS :
- Bertanya tentang masalah yang dirasakannya.
- Meminta informasi tentang keadaan penyakitnya.
- Mengatakan konsepsi yang keliru tentang penyakitnya.
DO :
- Tidak mengenal prognosa dan tindakan yang dilakukan.
- Tidak tahu dampak bila tidak dilakukan tindakan pembedahan. Klien mengenal dan mengetahui informasi penyakit, prognosa, dan tindakan yang perlu dilakukan dengan kriteria :
- Mengatakan keakuratan dari informasi yang didapat tentang diagnosa, tindakan dan kesiapan /penerimaan diri atas perawatan.
- Dapat membenarkan prosedur yang dibutuhkan.
- Menjelaskan dan merespon tindakan yang dilakukan.
- Mengindentifikasi / menggunakan sumber /ahli dengan tepat.
- Berpartisipasi pada kegiatan perawatan dan pengobatan. Independent :
1. Review tentang hal-hal yang khusus mengenai diagnosa, alternatif tindakan dan harapan mendatang dengan persepsi yang adekuat.
2. Jelaskan, beri gambaran dan kaji persepsi klien tentang neoplasma dan penanganannya. Kaitkan dengan pengalaman dari klien yang sama.
3. Jelaskan dan tanya klien untuk komunikasi (umpan balik) dan mengkoreksi konsepsi yang keliru tentang penyakit yang dideritanya.
4. Review medikasi secara khusus dan cara-cara penggunaan obat.
5. Jelaskan cara perawatan kulit khususnya area incisi post neoplasma.
6. Dorong klien untuk menggunakan sumber / ahli guna mengontrol status kesehatannya.
7. Lakukan pre discharge planning sesuai indikasi.
1. Validasi tingkat pemahaman dan identifikasi kebutuhan pembelajaran serta memberi pengetahuan dasar sehingga klien dapat mengambil keputusan sendiri untuk kesehatannya.
2. Menolong menyesuaikan diri dengan pengetahuan / informasi sehingga dapat diserap dan menurunkan kecemasan serta dapat mengasimilasi informasi.
3. Miskonsepsi tentang neoplasma akan mengganggu terhadap fakta-fakta dan proses penyembuhan.
4. Meningkatkan kemampuan untuk memanage perawatan diri dan menghindari potensial komplikasi, reaksi obat dsb.
5. Mencegah penambahan komplikasi, iritasi kulit dan pencegahan reaksi selanjutnya.
6. Meningkatkan kompetensi perawatan diri dan optimalisasi tingkat ketergantungan menurun.
7. Penambahan dan perubahan/ transisi di rumah dengan informasi yang akurat tentang hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi. 7 Mei 1998
1. Menjelaskan dan menyamakan persepsi serat identifikasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan diagnosa, prognosa dan tindakan.
Memvalidasi persepsi klien tentang pengaruh dari penyakit dan dampaknya.
2. Menjelaskan pada klien tentang keuntungan dan dampak dari tindakan yang dilakukan.
Mengajarkan tehnik relaksasi untuk menurunkan cemas.
3. Melakukan feed back tentang hal-hal yang sudah dijelaskan berkaitan dengan diagnosa, prognosa dan tindakan sesuai kemampuan.
4. Menjelaskan cara-cara penggunaan obat dan efek obat serta tindakan lanjut bula muncul reaksi lain.
5. Mengajarkan dan menerapkan cara perawatan kulit dan menghindari komplikasi lebih lanjut.
6. Menyarankan klien untuk konsultasi dan kontrol kesehatannya pada sumber di yankes yang terjangkau.
7. Membuat discharge planning.
Menjelaskan isi discharge planning.
Evaluasi dan umpan balik dari diagnosa perawatan yang diberikan berupa : ROM Lumpectomy, hal-hal yang harus dihindari, breast care.
7 Mei 1998
S = Klien menunjukkan partisipasi dan banyak bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan status kesehatannya.
O = Klien banyak bertanya tentang perawatan di rumah.
Persepsi klien +
Feed back +
Respons klien + terhadap tindakan yang diberikan.
Klien berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan keperawatan.
A = Pengetahuan yang penting tentang dampak dari neoplasma sangat menolong dalan menurunkan cemas dan meningkatkan self confidence pada klien.
P = Lanjutkan implementasi sesuai rencana.
DAFTAR PUSTAKA :
Doenges. M. et. all, (1993), Nursing Care Plans Guidelines for Planning and Documentating Patients Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia.
Joyce & Esther, (1997), Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, Edition 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Robbins & Kumar, (1992), Basic Pathology, Part I –II, Edition 4, W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Shirley E. Otto, (1994), Oncology Nursing, Edition 2, Mosby – Year Book-Inc, St. Louis Missouri.
A. PENGERTIAN
1. Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang meliputi kelenjar dan stroma jaringan ikat.
2. Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang bersimpai jelas, berbatas jelas, soliter, berbentuk benjolan yang dapat digerakkan.
PENYEBAB GANGGUAN
1. Peningkatan aktivitas Estrogen yang absolut atau relatif.
2. Genetik : payudara
3. Faktor-faktor predisposisi :
a. Usia : < 30 tahun
b. Jenis kelamin
c. Geografi
d. Pekerjaan
e. Hereditas
f. Diet
g. Stress
h. Lesi prekanker
TANDA & GEJALA
1. Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada penampang tampak jaringan ikat berwarna putih, kenyal
2. Ada bagian yang menonjol ke permukaan
3. Ada penekanan pada jaringan sekitar
4. Ada batas yang tegas
5. Bila diameter mencapai 10 – 15 cm muncul Fibroadenoma raksasa ( Giant Fibroadenoma )
6. Memiliki kapsul dan soliter
7. Benjolan dapat digerakkan
8. Pertumbuhannya lambat
9. Mudah diangkat dengan lokal surgery
10. Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian
PATOFISIOLOGI
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada masa reproduksi yang disebabkan oelh beberapa kemungkinan yaitu akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia.
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di sekitarnya. Pada gambaran histologis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu :
1. Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis.
2. Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau menghilang.
Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit dan pada saat menopause terjadi regresi.
B. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Biopsi
2. Pembedahan
3. Hormonal
4. PET ( Positron Emision Tomografi )
5. Mammografi
6. Angiografi
7. MRI
8. CT – Scan
9. Foto Rontqen ( x – ray )
10. Blood Study
PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI
1. Faktor-faktor resiko
2. Pemerikasaan payudara sendiri
3. Pemeriksaan klinik
4. Mammografi
5. Melaporkan tanda dan gejala pada sumber/ahli untuk mendapat perawatan
RENCANA KEPERAWATAN
Nama/Initial Klien : Ny. Nof.
Ruang : IRNA A Nama Mahasiswa : Subhan
Dx. Medis : Fibroadenoma Mammae NIM : 010030170 B
NO. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan syaraf, suplay vaskularisasi atau efek samping therapy/tindakan, ditandai dengan :
DS :
- Klien mengeluhkan rasa nyeri
- Meringis karena nyeri (facial mask of pain)
- Lemah dan istirahat kurang
DO :
- Gangguan tonus otot
- Gangguan prilaku
- Respon autonomic
Nyeri berkurang/dapat teratasi dengan kriteria :
- Melaporkan rasa nyeri yang sudah teratasi (rasa nyeri berkurang)
- Dapat mongontrol ADLs seminimal mungkin.
- Dapat mendemontrasikan keterampilan relaksasi dan aktivitas diversional sesuai situasi individu. Independent :
1. Kaji riwayat nyeri seperti lokasi; frekwensi ; durasi dan intensitas (skala 1 – 10) dan upaya untuk mengurangi nyeri.
2. Beri kenyamanan dengan mengatur posisi klien dan aktivitas diversional.
3. Dorong penggunaan stress management seperti tehnik relaksasi, visualisasi, komunikasi therapeutik melalui sentuhan.
4. Evaluasi/Kontrol berkurangnya rasa nyeri. Sesuaikan pemberian medikasi sesuai kebutuhannya
Kolaborasi :
5. Kembangkan rencana management penanganan sakit dengan klien dan dokter
6. Beri analgetik sesuai indikasi dan dosis yang tepat.
1. Informasi merupakan data dasar untuk evaluasi atau efektifitas intervensi yang dilakukan. Pengalaman nyeri setiap individu bervariasi karena mengganggu fisik dan psikologi.
2. Menolong dan meningkatkan relaksasi dan refokus
3. Melibatkan dan memberikan partisipasi aktif untuk meningkatkan kontrol
4. Tujuan umum/maksimal mengomtrol tingkat nyeri dan minimum ada keterlibatan dalam ADLs.
5. Rencana terorganisasi dan meningkatkan kesempatan dalam mengontrol rasa sakit. Klien harus berpartisipasi aktif dalam perawatan di rumah.
6. Nyeri merupakan dampak/komplikasi suatu tindakan atau keadaan penyakit serta perbedaan respon individu. 7 Mei 1998
1. Mengkaji riwayat nyeri. Menjelaskan pada pasien dampak nyeri dan pengaruh yang ditimbulkan akibat nyeri
Skala nyeri : 6 – 8
Ajarkan klien tehnik relaksasi.
2. Melakukan alih posisi dan menghindarkan penekanan pada daerah post op
Anjurkan klien tentang aktivitas diversional
3. Mengadakan tehnik komunikasi terapeutik dan melibatkan klien dalam pengelolaan pengaturan pengurangan rasa nyeri.
Memberi arahan pada klien tentang pengurangan rasa nyeri.
4. Support klien dalam pengurangan nyeri dengan cara : meditasi, latihan peningkatan relaksasi, petunjuk imagery, pengaturan latihan pernafasan.
Observasi vital signs T=110/70, N=76 x/menit, S=370C
5. Mendiskusikan hal-hal yang dapat dilakukan klien dalam penanganan nyeri khususnya bila klien sudah kembali ke rumah
6. Pemberian obat analgetik tidak dilakukan karena tidak ada order dan indikasi yang menunjang.
7 Mei 1998
S = Klien masih mengeluh adanya nyeri pada lokal incisi
Wajah klien menunjukkan rasa nyeri bila dareah lengan kiri dekat lokasi incisi digerakkan
Klien masih lemah
O = Respon Autonom +, perubahan prilaku - , Tonus otot tidak lemah
Klien melaporkan akan melakukan petunjuk yang disarankan perawat dalam penanganan nyeri
Klien mampu mengontrol dan membatasi ADLs.
A = Pengkajian tentang nyeri sangat vital baik subyektif &obyektif karena dipengaruhi pula oleh pengalaman individu dan sosial budaya individu.
Nyeri merupakan sumber yang mengakibatkan ketidakpuasan dan gangguan kebutuhan dasar manusia karena rasa nyaman terganggu
P = Lanjutkan implementasi sesuai rencana dan promote klien untuk berpartisipasi dalam penanganan nyeri.
2. Gangguan ganbaran diri (body image) berhubungan dengan tindakan pembedahan ditandai dengan :
DS :
- Verbalisasi perubahan pola hidup.
- Reaksi ketakutan dan menolak perubahan pada bagian tubuh.
- Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
- Perasaan/pandangan negatif terhadap tubuh
- Mengungkapkan keputus asaan.
- Mengungkapkan ketakutan ditolak
- Mengungkapkan kelemahan
DO :
- Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah
- Mengurangi kontak sosial
- Pre okupasi dengan bagian tubuh/fungsi tubuh yang hilang
- Menolak penjelasan perubahan tubuh
- Tidak mau turut bertanggung jawab dalam perawatan diri Gambaran diri berkembang secara positif dengan kriteria :
- Mengerti tentang perubahan pada tubuh.
- Menerima situasi yang terjadi pada dirinya.
- Mulai mengembangkan mekanisme koping pemecahan masalah.
- Menunjukkan penyesuaian terhadap perubahan.
- Dapat menerima realita.
- Hubungan interpersonal adekuat. Independent :
1. Diskusi dengan klien tentang diagnosa dan tindakan guna membantu klien agar dapat aktif kembali sesuai ADLs.
2. Review/antisipasi efek samping kaitan dengan tindakan yang dilakukan termasuk efek yang mengganggu aktivitas seksual
3. Dorong untuk melakukan diskusi dan menerima pemecahan masalah dari efek yang terjadi.
4. Beri informasi/konseling sesering mungkin.
5. Beri dorongan/support psikologis.
6. Gunakan sentuhan perasaan selama melakukan interaksi (pertahankan kontak mata)
Kolaborasi :
7. Refer klien pada kelompok program tertentu.
8. Refer pada sumber/ahli lain sesuai indikasi.
1. Menerima dam mengerti tentang hal-hal yang dilakukan merupakan awal proses penyelesaian masalah.
2. Antisipasi dini dapat menolong klien untuk mengawali proses adaptasi dalam mempersiapkan hal-hal yang dapat terjadi.
3. Dimungkinkan dapat menolong menurunkan masalah dengan keterlibatan sehingga dapat menerima tindakan yang dilakukan.
4. Validasi tentang kenyataan perasaan klien dan berikan tehnik koping sesuai kebutuhan.
5. Klien dengan gangguan neoplasma kanker membutuhkan support tambahan selama periode tersebut.
6. Penghargaan dan perhatian merupakan hal penting yang diharapkan klien guna menurunkan perasaan klien akan keraguan / ketidaknyamanan
7. Grup support biasanya sangat bermanfaat bagi klien dengan meningkatkan kontak dengan klien lain dengan masalah sama.
8. Mungkin berguna untuk mempertahankan struktur psikososial. 7 Mei 1998
1. Melakukan diskusi dengan klien tentang pengaruh dan kegunaan dari tindakan yang dilakukan serta dampak + tindakan tersebut untuk kehidupan klien.
2. Kaji ulang tentang pengaruh dari tindakan yang dilakukan.
Dorong klien untuk mengantisipasi & adaptasi ì¥Á G ¿ ¬E bjbjŽÙŽÙ „Œ ì³ ì³ ¬A ÿÿ ÿÿ ÿÿ ] 4 D D D D D ì¥Á G ¿ ¬E bjbjŽÙŽÙ „Œ ì³ ì³ ¬A ÿÿ ÿÿ ÿÿ ] 4 D D D D D asi dan mulai menerima perubahan pada dirinya (struktur & fungsi tubuh)
7 Mei 1998
S = Klien mengemukakan rasa cemas/khawatir akibat tindakan pada salah satu anggota tubuhnya.
Klien mengemukakan rasa lelah dan lemah saat operasi.
O = Klien menyadari adanya perubahan pada tubuhnya.
Klien mau menerima kondisi yang terjadi,
Hubungan interpersonal adekuat.
Tidak menolak untuk melihat dan meraba bagian yang dioperasi.
Kontak sosial adekuat.
Klien menerima dan menanggapi penjelasan tentang perubahan pada tubuh.
Klien mau terlibat dalam self care.
A = Mengkaji gangguan tentang body image penting untuk memulihkan / mengembalikan self esteem dan trust pada dirinya.
P = Lanjutkan tindakan sesuai rencana.
3. Resiko tinggi gangguan integritas jaringan/kulit berhubungan dengan efek treatment. Integritas jaringan/kulit adekuat dengan kriteria :
- Indentifikasi intervensi pada kondisi-kondisi khusus.
- Partisipasi aktif dalam tehnik guna pencegahan komplikasi / meningkatkan penyembuhan. Independent :
1. Kaji kondisi kulit dari efek samping : robekan, penyembuhan lambat.
2. Dorong klien untuk tidak menggaruk area yang terkena gangguan.
3. Sarankan klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, salep dan powder jika bukan order/ijin dari dokter atau perawatnya.
4. Atur posisi sesuai kebutuhan.
Kolaborasi :
5. Administrasi pemberian antidote sesuai indikasi.
6. Berikan therapi kompres hangat dan dingin sesuai petunjuk.
1. Efek-efek reaksi kulit dapat berupa kemerahan, gatal, kering, kelembaban berkurang, hiperpigmentasi, koloid, cikatriks.
2. Mencegah trauma / gesekan pada kulit.
3. Iritasi / reaksi pada kulit dapat meningkat.
4. Meningkatkan sirkulasi dan pencegahan tekanan pada jaringan / kulit.
5. Mengurangi kerusakan jaringan pada area / lokal.
6. Intervensi yang berbeda ini tergantung pada jenis-jenis agen yang digunakan. 7 Mei 1998
1. Memeriksa dan mengkaji daerah yang telah di incisi.
Luka operasi dalam kondisi adekuat, tidak ada tanda-tanda inflamasi.
2. Menganjurkan dan menjelaskan pada klien dampak dari garukan pada lokal pos op.
3. Menyarankan pada klien untuk tidak memakai cream, lotion, powder pada area yang dioperasi dan tidak memijat daerah tersebut.
4. Melakukan alih posisi sesuai kebutuhan klien dengan tanpa menekan pada daerah incisi.
Mengajarkan pada klien hal-hal yang penting dari alih posisi dan tehniknya.
5. Tidak dilakukan karena klien tidak menunjukkan indikasi pada penggunaan obat tersebut.
6. Menganjurkan klien untuk memberikan kompres pada daerah yang jauh dari area incisi dan menghindari area jadi basal.
7 Mei 1998
S = Klien mengemukakan tentang pengaruh pada kulit setelah operasi dan dampak laktasi karena klien G2P1 Minggu ke-19.
O : Tampak perubahan akibat incisi pada jaringan +kulit sekitar area post op.
Integritas kulit masih baik.
Tidak menunjukkan efek samping dan reaksi yang khusus pada kulit.
Palpasi : daerah yang jauh darri area incisi teraba hangat normal, tidak ada oedema.
A = Kondisi integritas jaringan / kulit akibat incisi penting dipertahankan guna menurunkan komplikasi/mencegah side efek lanjutan.
P = Lanjutkan tindakan sesuai rencana.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang penyakit, prognosis dan tindakan yang dibutuhkan berhubungan dengan informasi yang kurang, interpretasi yang keliru, ditandai dengan :
DS :
- Bertanya tentang masalah yang dirasakannya.
- Meminta informasi tentang keadaan penyakitnya.
- Mengatakan konsepsi yang keliru tentang penyakitnya.
DO :
- Tidak mengenal prognosa dan tindakan yang dilakukan.
- Tidak tahu dampak bila tidak dilakukan tindakan pembedahan. Klien mengenal dan mengetahui informasi penyakit, prognosa, dan tindakan yang perlu dilakukan dengan kriteria :
- Mengatakan keakuratan dari informasi yang didapat tentang diagnosa, tindakan dan kesiapan /penerimaan diri atas perawatan.
- Dapat membenarkan prosedur yang dibutuhkan.
- Menjelaskan dan merespon tindakan yang dilakukan.
- Mengindentifikasi / menggunakan sumber /ahli dengan tepat.
- Berpartisipasi pada kegiatan perawatan dan pengobatan. Independent :
1. Review tentang hal-hal yang khusus mengenai diagnosa, alternatif tindakan dan harapan mendatang dengan persepsi yang adekuat.
2. Jelaskan, beri gambaran dan kaji persepsi klien tentang neoplasma dan penanganannya. Kaitkan dengan pengalaman dari klien yang sama.
3. Jelaskan dan tanya klien untuk komunikasi (umpan balik) dan mengkoreksi konsepsi yang keliru tentang penyakit yang dideritanya.
4. Review medikasi secara khusus dan cara-cara penggunaan obat.
5. Jelaskan cara perawatan kulit khususnya area incisi post neoplasma.
6. Dorong klien untuk menggunakan sumber / ahli guna mengontrol status kesehatannya.
7. Lakukan pre discharge planning sesuai indikasi.
1. Validasi tingkat pemahaman dan identifikasi kebutuhan pembelajaran serta memberi pengetahuan dasar sehingga klien dapat mengambil keputusan sendiri untuk kesehatannya.
2. Menolong menyesuaikan diri dengan pengetahuan / informasi sehingga dapat diserap dan menurunkan kecemasan serta dapat mengasimilasi informasi.
3. Miskonsepsi tentang neoplasma akan mengganggu terhadap fakta-fakta dan proses penyembuhan.
4. Meningkatkan kemampuan untuk memanage perawatan diri dan menghindari potensial komplikasi, reaksi obat dsb.
5. Mencegah penambahan komplikasi, iritasi kulit dan pencegahan reaksi selanjutnya.
6. Meningkatkan kompetensi perawatan diri dan optimalisasi tingkat ketergantungan menurun.
7. Penambahan dan perubahan/ transisi di rumah dengan informasi yang akurat tentang hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi. 7 Mei 1998
1. Menjelaskan dan menyamakan persepsi serat identifikasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan diagnosa, prognosa dan tindakan.
Memvalidasi persepsi klien tentang pengaruh dari penyakit dan dampaknya.
2. Menjelaskan pada klien tentang keuntungan dan dampak dari tindakan yang dilakukan.
Mengajarkan tehnik relaksasi untuk menurunkan cemas.
3. Melakukan feed back tentang hal-hal yang sudah dijelaskan berkaitan dengan diagnosa, prognosa dan tindakan sesuai kemampuan.
4. Menjelaskan cara-cara penggunaan obat dan efek obat serta tindakan lanjut bula muncul reaksi lain.
5. Mengajarkan dan menerapkan cara perawatan kulit dan menghindari komplikasi lebih lanjut.
6. Menyarankan klien untuk konsultasi dan kontrol kesehatannya pada sumber di yankes yang terjangkau.
7. Membuat discharge planning.
Menjelaskan isi discharge planning.
Evaluasi dan umpan balik dari diagnosa perawatan yang diberikan berupa : ROM Lumpectomy, hal-hal yang harus dihindari, breast care.
7 Mei 1998
S = Klien menunjukkan partisipasi dan banyak bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan status kesehatannya.
O = Klien banyak bertanya tentang perawatan di rumah.
Persepsi klien +
Feed back +
Respons klien + terhadap tindakan yang diberikan.
Klien berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan keperawatan.
A = Pengetahuan yang penting tentang dampak dari neoplasma sangat menolong dalan menurunkan cemas dan meningkatkan self confidence pada klien.
P = Lanjutkan implementasi sesuai rencana.
DAFTAR PUSTAKA :
Doenges. M. et. all, (1993), Nursing Care Plans Guidelines for Planning and Documentating Patients Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia.
Joyce & Esther, (1997), Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, Edition 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Robbins & Kumar, (1992), Basic Pathology, Part I –II, Edition 4, W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Shirley E. Otto, (1994), Oncology Nursing, Edition 2, Mosby – Year Book-Inc, St. Louis Missouri.
Langganan:
Postingan (Atom)
